Pertemuan Project Steering Committee (PSC) ke-5 ARISE+ Indonesia Trade Support Facility berlangsung di Jakarta pada 13 Desember 2022. Pertemuan tersebut mempertemukan para pemangku kepentingan utama proyek, termasuk Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, sebagai lembaga koordinasi untuk empat Area/Komponen Prioritas program, penerima manfaat utama lainnya seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Investasi, Kementerian Perindustrian dan Badan Standardisasi Nasional , , Delegasi Uni Eropa (UE), dan Tim Bantuan Teknis ARISE+ Indonesia. Lebih dari 80 orang berpartisipasi secara pribadi dalam pertemuan tersebut, pertemuan pertama yang diselenggarakan secara sementara sejak pandemi COVID-19.

Pertemuan Project Steering Committee (PSC) ke-5 ARISE+ Indonesia Trade Support Facility berlangsung di Jakarta pada 13 Desember 2022. Pertemuan tersebut mempertemukan para pemangku kepentingan utama proyek, termasuk Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, sebagai lembaga koordinasi untuk empat Area/Komponen Prioritas program, penerima manfaat utama lainnya seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Investasi, Kementerian Perindustrian dan Badan Standardisasi Nasional , , Delegasi Uni Eropa (UE), dan Tim Bantuan Teknis ARISE+ Indonesia. Lebih dari 80 orang berpartisipasi secara pribadi dalam pertemuan tersebut, pertemuan pertama yang diselenggarakan secara sementara sejak pandemi COVID-19.
PSC diketuai bersama oleh Deputi Bidang Perekonomian Bappenas, Ibu Amalia Adininggar Widyasanti, dan Kepala Kerjasama Delegasi Uni Eropa, Bapak Thibaut Portevin, dan dimoderatori oleh Ibu PN Laksmi Kusumawati, Direktur Perdagangan, Investasi dan Internasional Economic Cooperation, yang juga menjabat sebagai Direktur Program ARISE+ Indonesia.
Ibu Widyasanti, mengakui partisipasi Ibu Zakiyah, Deputi Penerapan Standar dan Penilaian Kesesuaian, Badan Standardisasi Nasional, Bapak Ari Satria, Sekretaris Direktorat Perundingan Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan serta Bapak Nur Rakhman, Direktur Perundingan WTO , Direktorat Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, dan menyampaikan apresiasinya kepada Delegasi UE atas dukungan yang berkelanjutan melalui program ARISE+ Indonesia Trade Support Facility.
“Program ARISE+ Indonesia TSF merupakan komitmen kami untuk mewujudkan kemitraan yang lebih erat antara Indonesia dan Uni Eropa. Ini merupakan instrumen penting untuk meningkatkan perdagangan bilateral dengan mendukung penguatan kapasitas pemerintah Indonesia dalam meningkatkan kinerja dan daya saing perdagangan,” kata Ibu Widyasanti.
Dalam sambutannya, Ibu Widyasanti menyoroti kolaborasi dan koordinasi bersama yang patut dicontoh antara para pemangku kepentingan dalam pelaksanaan program sejak 2019 yang telah memberikan dampak seperti pada pemodelan ekonomi makro dan agenda Ekonomi Biru Indonesia. Ia berharap ilmu yang didapat dari kegiatan program ini dapat bermanfaat bagi seluruh pemangku kepentingan dan dapat diterapkan di masa mendatang, karena program lima tahun ini memasuki tahun terakhir pelaksanaannya.
Beliau juga memuji Tim Bantuan Teknis (TAT) pertama di bawah kepemimpinan Bapak Marc Kwai Pun dan Tim Bantuan Teknis kedua di bawah koordinasi Bapak Alessandro Martinatto atas dedikasi dan kerja keras mereka dalam implementasi program ARISE+ Indonesia senilai EUR 15 juta.
Mr Portevin mencatat bahwa program ini penting tidak hanya bagi pemerintah Indonesia tetapi juga strategis untuk kerja sama antara UE dan Indonesia, terutama negosiasi perdagangan bilateral yang sedang berlangsung dan investasi.
“ARISE+ Indonesia adalah instrumen andalan UE untuk memperkuat kerja sama investasi dengan Indonesia, yang menjadi prioritas utama kami,” kata Mr Portevin.
Dia juga menggarisbawahi tingginya relevansi program dalam konteks ekonomi internasional yang rapuh, memberikan masukan untuk bidang strategis seperti energi, pangan, dan rantai nilai berkelanjutan. Mr Portevin memuji pencapaian penting dari program yang dikonfirmasi oleh laporan tinjauan jangka menengah yang menyimpulkan bahwa program tersebut efektif dalam menanggapi pandemi dengan membangun saluran pengiriman baru dan cara belajar, memberikan keluaran berkualitas baik dan sangat mendorong kepemilikan oleh lembaga pemerintah dengan pendekatan demand-driven.
Saat ARISE+ Indonesia memasuki tahun terakhir pelaksanaan TAT I & II, Mr Portevin menggarisbawahi pentingnya fokus pada kegiatan program yang dapat memberikan dampak terbesar dan memastikan keberlanjutan setelah program selesai untuk menjangkau sebanyak mungkin mitra.
Tim Asistensi Teknis pertama dan kedua melaporkan hasil yang dicapai dan memaparkan garis besar kegiatan tahun 2023 selama lima bulan untuk TAT I dan satu tahun untuk TAT II.
Para pemangku kepentingan dari masing-masing Area Prioritas (Kebijakan Perdagangan dan Investasi, Fasilitasi Perdagangan, Infrastruktur Kualitas Ekspor, Indikasi Geografis dan Isu Lintas Sektoral) menyatakan kepuasan mereka atas kemajuan program dan rencana kegiatan di bawah rencana kerja tahunan berikutnya.