Kegiatan

Bantuan Teknis I

Pada tanggal 15 Maret 2023, Technical Assistance (TA) ARISE+ Indonesia yang pertama mengadakan Pertemuan Penutup untuk Area Prioritas 3, dengan fokus pada Infrastruktur Kualitas Ekspor (EQI). Tujuan dari pertemuan tersebut adalah untuk menyajikan gambaran menyeluruh tentang kegiatan yang dilakukan dan pencapaian yang dicapai selama fase implementasi program yang berlangsung dari Februari 2019 hingga Mei 2023.

Hadir pula Direktur Standardisasi dan Pengendalian Mutu Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tata Niaga Kementerian Perdagangan yang juga menjabat sebagai Koordinator Technical Advisory Board (TAB) Area Prioritas 3. partisipasi berbagai penerima manfaat antara lain perwakilan dari Kementerian Perdagangan, Badan Standardisasi Nasional, Kementerian Perindustrian, Badan Pengawasan Obat dan Makanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Balai Besar Kimia dan Pengemasan (BBKK), Balai Besar Jasa Agroindustri ( BBIA), Balai Pengujian Mutu Barang (BPMB), Kementerian Pertanian, dan badan usaha swasta.

Menyampaikan kata sambutannya, Hendro Purnomo, Direktur Standardisasi dan Kendali Mutu, mengucapkan terima kasih atas dukungan yang diberikan oleh program ARISE+ Indonesia yang didanai oleh UE. Dia menyoroti peran penting program dalam memperkuat kapasitas pemerintah untuk meningkatkan sistem penjaminan mutu nasional. Lebih lanjut, beliau menekankan kontribusi program tersebut terhadap peningkatan kualitas infrastruktur dan harmonisasi prosedur, standar, dan regulasi teknis di Indonesia agar selaras dengan benchmark internasional.

Bapak Hendro berkomentar, "Semua kementerian dan lembaga penerima telah menyatakan umpan balik positif mengenai inisiatif peningkatan kapasitas yang difasilitasi melalui ARISE+ Indonesia yang didanai oleh UE. Saya optimis bahwa peningkatan kecakapan pejabat pemerintah akan menghasilkan bantuan yang lebih baik untuk Mikro, Kecil, dan Usaha Menengah (UMKM) yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saing komoditas ekspor Indonesia.”

Dalam paparannya, Carsten Kudahl, Key Expert EQI, memaparkan kegiatan dan capaian dari tahun 2019 hingga 2023. Sepanjang periode ini, total 46 workshop dilakukan untuk meningkatkan National Quality Assurance, dan 11 workshop menargetkan peningkatan EQI. Lokakarya ini secara kolektif melibatkan 4356 peserta, yang terdiri dari pejabat pemerintah dan perwakilan sektor swasta.

Beberapa kegiatan penting telah dilakukan, antara lain:
• meningkatkan dan menyelaraskan standar Indonesia dengan standar internasional dan kerangka peraturan;
• meningkatkan penjaminan mutu nasional sejalan dengan praktik global;
• memperkuat sistem peringatan cepat nasional untuk produk non pangan dan pangan, termasuk pengembangan situs web INRAPEX (non pangan) dan pengkajian operasional INRASFF (pangan dan pangan);
• memberdayakan pejabat fungsional dengan keterampilan yang diperlukan untuk mendukung Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di berbagai bidang seperti manajemen mutu, Analisis Bahaya dan Titik Kontrol Kritis (HACCP), Praktik Manufaktur yang Baik (GMP), standar, regulasi teknis, dan penempatan produk di pasar;
• memperbarui Sistem Informasi Peraturan Teknis Indonesia (INATRIMS) untuk memasukkan peraturan teknis UE di 20 kategori produk;
• meningkatkan kerangka keamanan pangan;
• memperkuat sistem penjaminan mutu di sepanjang rantai nilai sektor perikanan;
• meningkatkan pengujian residu pestisida pada buah dan sayuran;
• meningkatkan kapasitas pengujian logam berat dan histamin dalam produk perikanan;
• meningkatkan metode pengujian mikotoksin dalam pala;
• memperbarui manual penanganan pala;
• membantu Badan Akreditasi Nasional (KAN) Indonesia dalam pengembangan dua skema akreditasi baru;
• memetakan penyedia layanan QI di provinsi terpilih untuk mengembangkan rekomendasi perbaikan di masa depan;
• meningkatkan kapasitas teknis Balai Besar Kimia dan Pengemasan (BBKK) agar sesuai dengan standar UE;
• penguatan kapasitas auditor dalam proses termal (teknologi pengalengan);
• membuktikan upaya peningkatan kapasitas untuk pendirian laboratorium metrologi biologi/kimia;
• melakukan penilaian terhadap sektor Bivalvia moluska Indonesia dan struktur kendali mutunya saat ini; Dan
• penguatan keahlian dalam sertifikasi SVLK (Sistem Jaminan Legalitas Kayu) dan pembuatan Manual SVLK pendamping.

Bapak Kudahl menyampaikan apresiasinya dengan menyoroti capaian yang telah dicapai di tengah pandemi COVID-19. Ia mengatakan, “Keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini selama pandemi COVID-19 menjadi bukti komitmen yang tak tergoyahkan, motivasi yang luar biasa, serta kolaborasi dan koordinasi yang luar biasa yang ditunjukkan oleh semua pemangku kepentingan.”

Team Leader ARISE+ Indonesia TAT 1, Marc Kwai Pun, menyampaikan harapannya untuk terus melakukan perbaikan dan tindak lanjut pencapaian program, dengan tujuan untuk memastikan manfaat yang berkelanjutan.

"Saya mendorong Anda untuk memanfaatkan peningkatan kapasitas yang difasilitasi oleh ARISE+ Indonesia untuk mendukung pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Anda. Kami berharap inisiatif yang dilaksanakan bekerja sama dengan ARISE+ Indonesia akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan NQA dan EQI Indonesia," Mr Kwai Pun disampaikan.

Peserta pertemuan, Vander, Petugas Pengawasan dari Direktorat Pengawasan Distribusi Barang dan Jasa, Kementerian Perdagangan, menyampaikan terima kasih atas peningkatan kapasitas yang difasilitasi oleh ARISE+ Indonesia dalam pengembangan Indonesia Rapid Alert System for Non-Food Products (INRAPEX).

"Sebagai sistem baru dan sangat menguntungkan, INRAPEX akan secara signifikan meningkatkan pengawasan pasar kami untuk produk non-pangan, sehingga meningkatkan perlindungan konsumen. Kami berterima kasih kepada ARISE+ Indonesia atas dukungan yang berharga ini," ujar Vander.

Subscribe to the ARISE+ Indonesia newsletter