Bantuan Teknis II

Investasi merupakan elemen penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan integrasi ekonomi internasional. Dengan kerangka kebijakan yang tepat, investasi dapat meningkatkan stabilitas keuangan, mendorong adopsi teknologi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Indonesia bertujuan untuk mencapai Visi 2045 dengan mendorong investasi dan ekspor sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Pada tahun 2022, Indonesia mencatat realisasi nilai investasi asing langsung (PMA) sebesar USD 45,6 miliar, meningkat 46,7% dibandingkan tahun 2021. Sementara itu, investasi dalam negeri mencapai Rp 552,8 triliun, meningkat 23,6% dibandingkan tahun 2021. Peningkatan ini menandakan rebound yang signifikan dari pertumbuhan pada tahun 2021 dan 2020.
Namun, kinerja investasi Indonesia belum mampu mendorong pertumbuhan ekonomi secara optimal akibat terjadinya inefisiensi ekonomi yang ditunjukkan dengan meningkatnya nilai Incremental Capital Output Ratio (ICOR), sekitar 6,2-6,3 persen pada tahun 2022. Investasi yang masuk belum terdongkrak. Tingkat partisipasi Indonesia dalam rantai nilai pasokan global. Selain itu, ketidakpastian ekonomi global akibat ketegangan geopolitik dan praktik proteksionis dapat mengancam kinerja FDI di Indonesia ke depan. Selain itu, faktor kelembagaan yang masih relatif rendah seperti tata kelola menjadi salah satu tantangan dalam meningkatkan investasi di Indonesia.
Untuk meningkatkan FDI, Pemerintah Indonesia menargetkan rasio FDI terhadap PDB sebesar 34,1% pada tahun 2025, dengan rata-rata pertumbuhan investasi sebesar 6,4% per tahun, dan target rasio investasi terhadap PDB sebesar 38,1% pada ulang tahun ke-100 tahun Indonesia merdeka pada tahun 2045. Pemerintah telah menerapkan strategi untuk mencapai target tersebut seperti memangkas peraturan birokrasi dan menyederhanakan prosedur bisnis dan investasi.
Untuk menjaga momentum investasi, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas bekerjasama dengan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Sosial Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) dengan dukungan penuh dari ARISE+ Indonesia mengembangkan Grand Desain Investasi atau Roadmap Investasi. Hasil kajian Grand Design Penanaman Modal ini dipresentasikan kepada pemangku kepentingan antara lain Kementerian Penanaman Modal/BKPM, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, asosiasi pengusaha seperti Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Kamar Dagang dan Industri (KADIN), serta mitra pembangunan seperti Bank Dunia, dan Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) pada 12 April 2023.
PN Laksmi Kusumawati, Direktur Perdagangan, Investasi, dan Kerjasama Ekonomi Internasional, Bappenas, menyampaikan apresiasinya atas Grand Design kajian Investasi yang dilakukan bekerja sama dengan LPEM dan ARISE+ Indonesia. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada para pemangku kepentingan atas partisipasi dan masukan yang berharga.
“Studi ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja dan kualitas investasi Indonesia,” kata Ibu Laksmi.

Menurut Fajar Hadi Pratama, Perencana Kebijakan/Koordinator Investasi di Bappenas, Kajian Grand Design Investasi bertujuan untuk memetakan tantangan investasi Indonesia saat ini dan mengembangkan strategi dan rencana aksi dengan jadwal implementasi spesifik untuk setiap pemangku kepentingan yang terlibat dalam sektor investasi. Selain itu, roadmap tersebut diharapkan dapat menjadi masukan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 dan sebagai bahan acuan dalam perencanaan tahap awal RPJMN berikutnya, khususnya untuk periode 2025-2029.
Kajian Grand Design on Investment mengidentifikasi tantangan yang dihadapi Indonesia terkait kelembagaan, regulasi, daya saing, dan kualitas sumber daya manusia. Kajian ini merekomendasikan strategi dan rencana aksi untuk mengatasi tantangan tersebut yang dapat diimplementasikan dalam periode RPJMN 2025-2029 dan selama tiga periode RPJMN berikutnya.
Para pemangku kepentingan menyambut baik Grand Design studi Investasi. Ratih Purbasari Kania, Direktur Perencanaan Sumber Daya Alam, BKPM, mengapresiasi kajian tersebut karena akan bermanfaat sebagai masukan bagi BKPM dalam menyusun dokumen perencanaan investasi jangka menengah dan panjang, Rencana Strategis BKPM 2025-2029 dan Rencana Investasi Umum untuk periode 2026-2045.
Ketua Komite Analis Kebijakan Ekonomi APINDO, Ajib Hamdani, memuji hasil kajian komprehensif tersebut dan mengusulkan hal-hal krusial untuk masukan dalam perumusan kebijakan. Diantaranya adalah meningkatkan efisiensi dan efektivitas BUMN untuk mendongkrak penerimaan negara, memberikan pendampingan yang komprehensif dari hulu ke hilir bagi UMKM, karena sektor UMKM mendukung 60,8% PDB, memastikan tingkat penyerapan tenaga kerja berbanding lurus dengan nilai investasi. , mendorong investasi dalam negeri untuk mendukung kebijakan hilirisasi, sehingga pelaku dalam negeri juga dapat merasakan peningkatan nilai tambah, serta memberikan insentif moneter dan fiskal untuk mendorong investasi hijau.
Perwakilan dari Bank Dunia, KADIN, dan KPPOD juga memberikan masukan untuk perbaikan hasil kajian.

PN Laksmi Kusumawati, Direktur Perdagangan, Investasi, dan Kerjasama Ekonomi Internasional, Bappenas, menyampaikan apresiasinya atas Grand Design kajian Investasi yang dilakukan bekerja sama dengan LPEM dan ARISE+ Indonesia. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada para pemangku kepentingan atas partisipasi dan masukan yang berharga.
“Studi ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja dan kualitas investasi Indonesia,” kata Ibu Laksmi.
Menurut Fajar Hadi Pratama, Perencana Kebijakan/Koordinator Investasi di Bappenas, Kajian Grand Design Investasi bertujuan untuk memetakan tantangan investasi Indonesia saat ini dan mengembangkan strategi dan rencana aksi dengan jadwal implementasi spesifik untuk setiap pemangku kepentingan yang terlibat dalam sektor investasi. Selain itu, roadmap tersebut diharapkan dapat menjadi masukan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 dan sebagai bahan acuan dalam perencanaan tahap awal RPJMN berikutnya, khususnya untuk periode 2025-2029.
Kajian Grand Design on Investment mengidentifikasi tantangan yang dihadapi Indonesia terkait kelembagaan, regulasi, daya saing, dan kualitas sumber daya manusia. Kajian ini merekomendasikan strategi dan rencana aksi untuk mengatasi tantangan tersebut yang dapat diimplementasikan dalam periode RPJMN 2025-2029 dan selama tiga periode RPJMN berikutnya.
Para pemangku kepentingan menyambut baik Grand Design studi Investasi. Ratih Purbasari Kania, Direktur Perencanaan Sumber Daya Alam, BKPM, mengapresiasi kajian tersebut karena akan bermanfaat sebagai masukan bagi BKPM dalam menyusun dokumen perencanaan investasi jangka menengah dan panjang, Rencana Strategis BKPM 2025-2029 dan Rencana Investasi Umum untuk periode 2026-2045.
Ketua Komite Analis Kebijakan Ekonomi APINDO, Ajib Hamdani, memuji hasil kajian komprehensif tersebut dan mengusulkan hal-hal krusial untuk masukan dalam perumusan kebijakan. Diantaranya adalah meningkatkan efisiensi dan efektivitas BUMN untuk mendongkrak penerimaan negara, memberikan pendampingan yang komprehensif dari hulu ke hilir bagi UMKM, karena sektor UMKM mendukung 60,8% PDB, memastikan tingkat penyerapan tenaga kerja berbanding lurus dengan nilai investasi. , mendorong investasi dalam negeri untuk mendukung kebijakan hilirisasi, sehingga pelaku dalam negeri juga dapat merasakan peningkatan nilai tambah, serta memberikan insentif moneter dan fiskal untuk mendorong investasi hijau.
Perwakilan dari Bank Dunia, KADIN, dan KPPOD juga memberikan masukan untuk perbaikan hasil kajian.