Kegiatan

Bantuan Teknis II

Kajian Percepatan Ekspor yang dilakukan oleh Bappenas dan Center for Economic and Development Studies (CEDS) dengan dukungan dari ARISE+ Indonesia menemukan bahwa kontribusi ekspor Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) telah menurun selama dua dekade terakhir.

Beberapa kemungkinan penyebab penurunan tersebut antara lain struktur ekspor Indonesia yang didominasi oleh produk berteknologi rendah, yang tidak memenuhi permintaan produk berteknologi menengah dan tinggi di pasar global, serta rendahnya partisipasi Indonesia dalam Rantai Nilai Global (GVC) dibandingkan dengan beberapa negara lain di Asia.

Akibatnya, Indonesia memiliki penetrasi pasar global yang rendah. Kajian ini mengusulkan strategi dan rencana aksi untuk meningkatkan kinerja ekspor Indonesia melalui reformasi kebijakan sektoral untuk mempercepat ekspor barang dan meningkatkan daya saing sektor jasa. Draf kajian tersebut dipresentasikan pada Jumat, 10 Maret 2023, kepada para pemangku kepentingan dari kementerian dan lembaga terkait.

Direktur Perdagangan, Investasi, dan Kerjasama Ekonomi Internasional Bappenas, PN. Laksmi Kusumawati menegaskan kinerja ekspor sangat penting untuk mencapai Visi Indonesia 2045 yang bertujuan menjadikan Indonesia sebagai salah satu dari lima besar negara berpenghasilan tinggi di dunia. Ia menjelaskan bahwa Bappenas dan ARISE+ Indonesia melakukan kajian untuk mengidentifikasi tantangan dari sisi penawaran dan permintaan, memetakan pemangku kepentingan terkait, dan mengembangkan rencana aksi untuk mempercepat ekspor.

“Rencana aksi yang dikembangkan dari kajian tersebut akan menjadi masukan penting bagi Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2024 dan perencanaan tahap awal RPJMN 2025-2029,” kata Ibu Laksmi.

Kajian ini menggunakan beberapa metode, antara lain kajian pustaka, diskusi kelompok terarah (FGD), dan wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan pemerintah dan swasta untuk merancang dan menyusun Grand Design Percepatan Ekspor. Analisis ekspor barang difokuskan pada industri pertanian, perikanan, dan manufaktur, termasuk manufaktur skala kecil dan menengah. Salah satu contoh insight kajian tersebut adalah nilai ekspor Indonesia di sektor perikanan relatif rendah dibandingkan dengan beberapa negara yang memiliki wilayah perairan lebih kecil. Beberapa hambatan, seperti aspek perizinan, persyaratan investasi yang tinggi, pembiayaan dan infrastruktur yang terbatas, serta biaya logistik yang tinggi, menghambat tahap awal. Selain itu, non-tariff measures (NTMs) dan persyaratan keberlanjutan dan ketertelusuran yang diberlakukan oleh negara tujuan ekspor menghambat pelaku usaha terkait prosedur ekspor.

Studi ini mengusulkan intervensi kebijakan untuk sektor perikanan seperti evaluasi dan penerbitan pedoman teknis, penyediaan pembiayaan dan infrastruktur yang memadai, menghilangkan perlindungan yang berdampak pada harga kargo, standarisasi pakan dan rantai pasokan produk perikanan, menyediakan fasilitas infrastruktur rantai dingin, dan melakukan sosialisasi untuk bisnis aktor.

Selain itu, studi ini mengeksplorasi beberapa sektor jasa dengan potensi ekspor yang signifikan, termasuk pariwisata, transportasi udara, pusat data, pinjaman P2P, manajemen aset, dan waralaba. Studi tersebut mengungkapkan bahwa Indonesia adalah pengimpor bersih di sektor jasa secara umum, namun beberapa sektor jasa, seperti pariwisata dan waralaba, melihat tren ekspor yang positif. Dengan demikian, perubahan kebijakan khusus sektor diperlukan untuk meningkatkan daya saing layanan ini.

Temuan dan rekomendasi Grand Design ini akan dilengkapi dengan dua Grand Design tambahan yang sedang diselesaikan oleh Bappenas dengan dukungan ARISE+ Indonesia - ini mencakup Kerjasama Investasi dan Ekonomi. Detail tentang temuan utama mereka masing-masing akan dibagikan pada waktunya.

Subscribe to the ARISE+ Indonesia newsletter