Bantuan Teknis I

Deforestasi telah menjadi perhatian global utama dalam beberapa tahun terakhir karena dampaknya yang mendalam dan menghancurkan terhadap lingkungan, satwa liar, dan masyarakat. Ketika hutan dihancurkan, mereka melepaskan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer, berkontribusi secara signifikan terhadap perubahan iklim. Selain itu, degradasi hutan dapat menyebabkan erosi tanah, hilangnya keanekaragaman hayati, dan perubahan pola cuaca lokal.
Penyebab utama deforestasi global adalah konversi hutan menjadi padang rumput, tanaman pangan, dan perkebunan. Sebagian besar kerusakan ini terkait dengan tujuh komoditas utama: sapi, kedelai, kelapa sawit, serat kayu, kakao, kopi, dan karet. Menurut laporan WWF tahun 2021, tiga yang pertama saja bertanggung jawab atas 53% deforestasi yang didorong oleh pertanian baru-baru ini (sapi sebesar 37%, kelapa sawit sebesar 9%, dan kedelai sebesar 7%).

Akibatnya, ada peningkatan permintaan untuk praktik berkelanjutan dan bertanggung jawab dalam produksi barang dan jasa, yang mengakibatkan Uni Eropa memperkenalkan peraturan rantai pasokan bebas deforestasi. Peraturan tersebut berupaya menghapus deforestasi dan degradasi hutan dari rantai pasokan global.
Karena kesadaran dan permintaan konsumen akan produk yang etis dan berkelanjutan terus tumbuh, bisnis, termasuk yang memproduksi produk Indikasi Geografis, memiliki tanggung jawab untuk meminimalkan dampak lingkungan dan beradaptasi dengan praktik berkelanjutan. Implementasi rantai pasokan bebas deforestasi tidak hanya melestarikan ekosistem dan keanekaragaman hayati yang rapuh, tetapi juga berkontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim dengan mengurangi emisi gas rumah kaca akibat deforestasi dan degradasi hutan.

Untuk itu, di bawah naungan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM, ARISE+ Indonesia menyelenggarakan lokakarya sosialisasi pada 22-23 Februari 2023 di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Lokakarya ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran di antara anggota asosiasi Indikasi Geografis Kakao Berau (MPIG Kakao Berau) dan pejabat pemerintah daerah tentang pentingnya rantai pasokan bebas deforestasi.
M. Rifan, Pakar Pengendalian Internal Indikasi Geografis ARISE+ Indonesia, menyoroti bahwa di dunia yang bergulat dengan tantangan lingkungan, transisi ke rantai pasokan bebas deforestasi bukan hanya pilihan moral tetapi juga keputusan strategis dan layak secara ekonomi untuk pertumbuhan dan kesuksesan jangka panjang .

“Dengan merangkul transparansi dan akuntabilitas, bisnis dapat menumbuhkan kepercayaan dan loyalitas konsumen serta memperluas pasar sambil memainkan peran penting dalam menjaga masa depan planet kita,” kata Rifan.
Berdasarkan peta interaktif yang dikelola Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, perkebunan kakao di Kabupaten Berau berada di luar kawasan hutan lindung. Artinya, perkebunan kakao di Berau tidak berkontribusi terhadap deforestasi di kabupaten tersebut, sehingga memberikan keuntungan yang signifikan bagi petani di wilayah tersebut yang ingin menghasilkan kakao berkualitas tinggi tanpa merusak lingkungan.
Ketua MPIG Kakao Berau, Maryono, merasa lega kebun kakaonya sudah sesuai aturan. “Dengan dukungan dari ARISE+ Indonesia, kami membangun sistem ketertelusuran untuk produk kami yang memberikan jaminan kualitas dan menjamin produk kami bebas deforestasi,” kata Maryono.
Rifan menunjukkan bahwa tanaman kakao dapat membantu melindungi hutan karena tumbuh lebih baik bila ditanam dalam sistem agroforestri yang menggabungkan pohon dan tanaman daripada monokultur. Sistem agroforestri ini menawarkan banyak manfaat, antara lain memperkuat ketahanan areal produksi kakao dan memulihkan lahan terdegradasi. Beberapa manfaat lainnya antara lain meningkatkan hasil tanaman pangan pokok sehingga meningkatkan pendapatan petani, meningkatkan keanekaragaman hayati, memperbaiki struktur dan kesehatan tanah, mengurangi erosi, dan meningkatkan penyerapan karbon.
“Produk Indikasi Geografis (GI) memiliki potensi besar untuk menjaga hutan kita dengan mendorong rantai pasokan bebas deforestasi melalui kontrol internal yang ketat dan langkah-langkah ketertelusuran,” tambah Rifan.
Selain itu, lokakarya difokuskan untuk membahas rekomendasi dan temuan audit eksternal, termasuk perbaikan metode organik dan penggunaan pestisida yang lebih baik di perkebunan kakao di Berau. Audit eksternal dilakukan oleh CSQA, lembaga sertifikasi dan inspeksi internasional dari Italia.
Nicolaus Jumin, Ketua Kelompok Tani Desa Suaran dan anggota MPIG Kakao Berau, memuji dukungan ARISE+ Indonesia dalam memberikan informasi dan pengetahuan tentang praktik berkelanjutan. Jumin berkata, "Dukungan ini akan memungkinkan kami mempersiapkan kakao kami untuk memenuhi persyaratan pasar ekspor Uni Eropa, memastikan produk kami kompetitif sekaligus memenuhi standar etika dan lingkungan."
Lita Handini, Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Berau, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada ARISE+ Indonesia atas dukungannya yang sangat berharga dalam membantu petani menjaga kualitas kakao di Berau.
“Dukungan ARISE+ Indonesia sangat bermanfaat bagi masyarakat kita. Dengan menunjukkan manfaat ekonomi dan lingkungan dari GI Kakao Berau yang disempurnakan, saya optimis dapat menghidupkan kembali produksi kakao di Kabupaten Berau untuk mencegah deforestasi dan mengembalikan kesuburan hutan yang terdegradasi,” pungkas Lita.