
Bekerja sama dengan ARISE+ Indonesia, Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN), Kementerian Perdagangan menerbitkan kajian 'The Opportunities Offered by e-Commerce for UMKM in Global e-Marketplaces' dalam lokakarya online, Senin (23/08).
Studi ini menilai pasar elektronik global teratas untuk lima produk prioritas, termasuk makanan (kacang-kacangan, buah-buahan, kopi, teh, dan rempah-rempah), kerajinan tangan, pakaian jadi, alas kaki, dan furnitur. Kajian tersebut juga memberikan informasi mengenai kondisi platform e-commerce dan analisis kesiapan UMKM Indonesia untuk berjualan di e-marketplace tersebut.
Ekonomi digital di Indonesia mengalami pertumbuhan yang menonjol selama beberapa tahun terakhir. Populasi muda Indonesia, penetrasi internet yang tinggi, dan pertumbuhan kelas menengah menjadi pendorong utama pertumbuhan e-commerce. Pandemi COVID-19 juga mendorong percepatan transformasi digital Indonesia semakin cepat.
Hingga kuartal kedua tahun 2021, transaksi e-commerce Indonesia telah menghasilkan Rp186,8 triliun (hampir US$13 miliar), meningkat 63,4 persen dari tahun lalu, menurut data Kementerian Perdagangan. Diprediksi akan meningkat 48,4% year-over-year (YoY) dan mengumpulkan pendapatan sebesar Rp395 triliun (lebih dari US$27 miliar) pada akhir tahun 2021.
“Ekonomi digital khususnya e-commerce memiliki potensi dan peluang yang besar dalam mendorong pertumbuhan dan pembangunan ekonomi yang inklusif,” kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Didi Sumedi dalam sambutan pembukaannya.
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi tulang punggung ekonomi digital Indonesia. UMKM menyumbang 99% dari total perusahaan aktif di Indonesia, 97% dari total lapangan kerja, tetapi hanya 60% dari PDB dan investasi nasional. Memungkinkan lebih banyak UMKM untuk memanfaatkan potensi teknologi digital dapat membantu mereka berekspansi ke pasar luar negeri menggunakan e-commerce, sehingga meningkatkan partisipasi mereka dalam perdagangan global.
“Masuknya UMKM ke dalam perdagangan digital merupakan solusi untuk membantu dan mendorong UMKM beradaptasi di tengah pandemi Covid-19,” tambah Sumedi.
Studi ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan sektor swasta dan asosiasi perdagangan dalam fasilitasi perdagangan dengan meningkatkan kesadaran akan peluang yang ditawarkan oleh e-commerce untuk UMKM Indonesia. Studi ini, dan metodologi yang dikandungnya, dapat digunakan sebagai panduan bagi sektor publik dan swasta dalam menilai peluang yang ditawarkan perdagangan internasional dan bagaimana mewujudkannya melalui e-commerce.
Studi ini juga melihat tantangan yang dihadapi UMKM dalam memasuki pasar global melalui e-commerce. Biaya pengiriman yang tinggi, keterampilan pemasaran, biaya pendaftaran yang tinggi untuk e-marketplace lintas batas untuk UKM, dan kesiapan untuk e-commerce lintas batas adalah beberapa hambatan yang paling banyak dilaporkan oleh UMKM.
Rekomendasi utama untuk meningkatkan partisipasi UMKM dalam e-commerce antara lain meningkatkan kesiapan UMKM, mengelola beberapa kesenjangan kebijakan dan infrastruktur, serta memperkuat peran Indonesian Trade and Promotion Center (ITPC) dalam memberikan informasi terkini bagi UMKM.
Menanggapi rekomendasi kajian tersebut, Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor, Marolop Nainggolan dalam sambutan penutupnya menyampaikan bahwa pemerintah akan terus membangun kerjasama dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk meningkatkan pengembangan e-commerce.
“Dengan memanfaatkan fasilitas dan infrastruktur kami, kami akan memberikan peluang bagi UMKM untuk mengakses e-marketplace dengan lebih baik melalui acara regional atau internasional kami,” kata Nainggolan.
Hampir 200 perwakilan dari Kementerian Perdagangan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Perindustrian, Kementerian Koperasi dan UMKM, atase perdagangan, Pusat Promosi dan Perdagangan Indonesia, asosiasi bisnis dan UMKM berpartisipasi dalam lokakarya tersebut.
Salah satu peserta dari perusahaan pakaian ecoprint kecil mengomentari penelitian tersebut. “Studi yang sangat berwawasan. Ini memberi kami dasar yang kuat untuk go digital,” kata Arief Jatinugroho, Chief Operating Officer House of Distraw, usai lokakarya.
###
Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi:
Direktorat Kerjasama Pengembangan Ekspor
Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia di Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. atau Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Studi ini menilai pasar elektronik global teratas untuk lima produk prioritas, termasuk makanan (kacang-kacangan, buah-buahan, kopi, teh, dan rempah-rempah), kerajinan tangan, pakaian jadi, alas kaki, dan furnitur. Kajian tersebut juga memberikan informasi mengenai kondisi platform e-commerce dan analisis kesiapan UMKM Indonesia untuk berjualan di e-marketplace tersebut.
Ekonomi digital di Indonesia mengalami pertumbuhan yang menonjol selama beberapa tahun terakhir. Populasi muda Indonesia, penetrasi internet yang tinggi, dan pertumbuhan kelas menengah menjadi pendorong utama pertumbuhan e-commerce. Pandemi COVID-19 juga mendorong percepatan transformasi digital Indonesia semakin cepat.
Hingga kuartal kedua tahun 2021, transaksi e-commerce Indonesia telah menghasilkan Rp186,8 triliun (hampir US$13 miliar), meningkat 63,4 persen dari tahun lalu, menurut data Kementerian Perdagangan. Diprediksi akan meningkat 48,4% year-over-year (YoY) dan mengumpulkan pendapatan sebesar Rp395 triliun (lebih dari US$27 miliar) pada akhir tahun 2021.
“Ekonomi digital khususnya e-commerce memiliki potensi dan peluang yang besar dalam mendorong pertumbuhan dan pembangunan ekonomi yang inklusif,” kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Didi Sumedi dalam sambutan pembukaannya.
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi tulang punggung ekonomi digital Indonesia. UMKM menyumbang 99% dari total perusahaan aktif di Indonesia, 97% dari total lapangan kerja, tetapi hanya 60% dari PDB dan investasi nasional. Memungkinkan lebih banyak UMKM untuk memanfaatkan potensi teknologi digital dapat membantu mereka berekspansi ke pasar luar negeri menggunakan e-commerce, sehingga meningkatkan partisipasi mereka dalam perdagangan global.
“Masuknya UMKM ke dalam perdagangan digital merupakan solusi untuk membantu dan mendorong UMKM beradaptasi di tengah pandemi Covid-19,” tambah Sumedi.
Studi ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan sektor swasta dan asosiasi perdagangan dalam fasilitasi perdagangan dengan meningkatkan kesadaran akan peluang yang ditawarkan oleh e-commerce untuk UMKM Indonesia. Studi ini, dan metodologi yang dikandungnya, dapat digunakan sebagai panduan bagi sektor publik dan swasta dalam menilai peluang yang ditawarkan perdagangan internasional dan bagaimana mewujudkannya melalui e-commerce.
Studi ini juga melihat tantangan yang dihadapi UMKM dalam memasuki pasar global melalui e-commerce. Biaya pengiriman yang tinggi, keterampilan pemasaran, biaya pendaftaran yang tinggi untuk e-marketplace lintas batas untuk UKM, dan kesiapan untuk e-commerce lintas batas adalah beberapa hambatan yang paling banyak dilaporkan oleh UMKM.
Rekomendasi utama untuk meningkatkan partisipasi UMKM dalam e-commerce antara lain meningkatkan kesiapan UMKM, mengelola beberapa kesenjangan kebijakan dan infrastruktur, serta memperkuat peran Indonesian Trade and Promotion Center (ITPC) dalam memberikan informasi terkini bagi UMKM.
Menanggapi rekomendasi kajian tersebut, Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor, Marolop Nainggolan dalam sambutan penutupnya menyampaikan bahwa pemerintah akan terus membangun kerjasama dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk meningkatkan pengembangan e-commerce.
“Dengan memanfaatkan fasilitas dan infrastruktur kami, kami akan memberikan peluang bagi UMKM untuk mengakses e-marketplace dengan lebih baik melalui acara regional atau internasional kami,” kata Nainggolan.
Hampir 200 perwakilan dari Kementerian Perdagangan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Perindustrian, Kementerian Koperasi dan UMKM, atase perdagangan, Pusat Promosi dan Perdagangan Indonesia, asosiasi bisnis dan UMKM berpartisipasi dalam lokakarya tersebut.
Salah satu peserta dari perusahaan pakaian ecoprint kecil mengomentari penelitian tersebut. “Studi yang sangat berwawasan. Ini memberi kami dasar yang kuat untuk go digital,” kata Arief Jatinugroho, Chief Operating Officer House of Distraw, usai lokakarya.
###
Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi:
Direktorat Kerjasama Pengembangan Ekspor
Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia di Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. atau Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.