Kegiatan

Technical Assistance I

Secara global, industri makanan, termasuk pengecer, supermarket, dan pengolah, terutama di Uni Eropa (EU), semakin menuntut produk bersertifikat kualitas dengan kriteria yang menjamin keamanan pangan, keberlanjutan, ketertelusuran, dan tanggung jawab sosial. Menyikapi permintaan yang terus meningkat ini, Badan Akreditasi Nasional Indonesia (KAN), dengan dukungan dari ARISE+ Indonesia, menggelar diskusi kelompok terfokus pada Rabu (16/03) untuk mengkaji potensi dan kebutuhan penerapan sertifikasi GLOBALG.A.P di Indonesia. GLOBALG.A.P adalah sertifikasi praktik pertanian yang baik yang paling banyak diterima di seluruh dunia.

Deputi Bidang Akreditasi Badan Standardisasi Nasional (BSN), Donny Purnomo yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal KAN, menekankan pentingnya pemenuhan standar GLOBALG.AP untuk meningkatkan akses produk pertanian dan perikanan budidaya Indonesia ke dalam pasar global dan memungkinkan petani Indonesia untuk meningkatkan tingkat penerimaan produk mereka. Hal ini juga akan membuka peluang bagi lembaga sertifikasi Indonesia untuk memberikan sertifikasi GLOBALG.A.P.

Lebih dari 100 perwakilan dari lembaga sertifikasi publik dan swasta di Indonesia berpartisipasi dalam pertemuan tersebut. Ketua Tim Akun Utama GLOBALG.A.P, Ignacio Antequera, dan Pakar Sertifikasi Budidaya, Viet Anh, mempresentasikan prosedur teknis dan administratif GLOBALG.A.P.

Dalam sambutannya, Direktur Sistem dan Harmonisasi Akreditasi KAN, Sugeng Raharjo mengatakan bahwa diskusi dengan GLOBALG.AP merupakan langkah penting dan bagian dari analisis untuk menginisiasi program akreditasi baru bagi lembaga sertifikasi agar memenuhi syarat untuk menerbitkan GLOBALG. sertifikat AP.

Menurut Ignacio Antequera, sebagai salah satu produsen udang, beras, buah dan sayuran terbesar di dunia, Indonesia berpotensi untuk meningkatkan ekspornya dengan menerapkan persyaratan standar sukarela sertifikasi GLOBALG.A.P. Hingga saat ini, 208.000 petani di 135 negara telah disertifikasi GLOBALG.A.P.

Salah satu peserta dari Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Sekar Insani mengatakan, informasi dan diskusi tersebut sangat berwawasan dan berharga untuk meningkatkan pemahaman tentang GAP (Good Agricultural Practices) di Indonesia.

Sri Sulasmi, Asesor Kompetensi di salah satu lembaga sertifikasi swasta di bidang pertanian organik, menyarankan agar KAN/BSN dapat mencari kesempatan untuk memfasilitasi pembentukan Memorandum of Understanding (MoU) antara GLOBALG.AP dan Indonesia GAP dan dengan demikian mengambil yang pertama langkah menuju akreditasi lembaga sertifikasi.

Subscribe to the ARISE+ Indonesia newsletter