Bantuan Teknis II

Di kota pesisir Tanjung Balai Asahan yang ramai di Sumatera Utara, gelombang pengetahuan transformatif baru-baru ini melanda kehidupan profesional Bardi, seorang Petugas Pengendalian Mutu yang berkomitmen di unit pengolahan ikan setempat. Pengalamannya mendalami lautan wawasan berharga mengenai potensi ekspor dan kebutuhan produk kerang (Live Bivalve Molluscs) ke berbagai negara, termasuk Uni Eropa tidak hanya memperluas wawasan profesionalnya tetapi juga berjanji untuk mengarahkan perusahaannya menuju pasar yang belum dipetakan.
Berdasarkan data European Market Observatory for Fisheries and Aquaculture (EUMOFA) per Agustus 2023, impor kerang dan moluska lainnya UE pada tahun 2021 berjumlah 147.213 ton dari hasil tangkapan liar dan 168.857 ton dari budidaya perikanan. Hal ini merupakan potensi besar yang dapat dimanfaatkan oleh Indonesia, sebagai produsen produk perikanan terbesar kedua di dunia. Indonesia menyumbang 10% terhadap produksi perikanan global, menyusul Tiongkok yang menyumbang 39% berdasarkan data EUMOFA tahun 2021.
Pengetahuan tersebut merupakan hasil keikutsertaan Bardi dalam workshop sanitasi kerang dan informasi pasar yang diselenggarakan oleh Badan Pengawasan Mutu dan Jaminan Keamanan Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan didukung oleh ARISE+ Indonesia pada tanggal 8 November 2023.
Bardi dengan semangat baru menyatakan, “Informasi ini sangat berharga, tidak hanya bagi saya tetapi juga bagi unit pengolahan ikan tempat saya bekerja. Kami baru mengekspor ke Malaysia, namun potensi untuk memperluas produk kerang kami ke pasar global pasar, khususnya Eropa, adalah kemungkinan yang sangat menarik."
Tanjung Balai Asahan, terletak sekitar 5 jam perjalanan dari Medan di Sumatera Utara, terkenal sebagai salah satu produsen kerang terbaik di Indonesia. Dikenal dengan sebutan 'Kota Kerang', kota ini terletak di sepanjang tepian Sungai Asahan – sungai terpanjang di Sumatera Utara – yang bermuara di Selat Malaka. Berdasarkan data Stasiun Pengendalian Mutu dan Karantina Ikan (SKIPM) setempat, total produksi kerang Tanjung Balai Asahan pada tahun 2022 yang meliputi daging cangkang bahtera, bayi kerang, kerang darah, dan kerang silet berjumlah 649.227 kg.
Besarnya potensi produksi kerang di Tanjung Balai Asahan mendorong Kementerian Kelautan dan Perikanan bekerja sama dengan ARISE + Indonesia untuk memulai kajian dan melakukan lokakarya peningkatan kapasitas untuk menetapkan zona produksi kerang yang memenuhi persyaratan kebersihan yang diperlukan untuk ekspor. , khususnya ke Uni Eropa (UE).
Fadli Pramana, Pj Kepala SKIPM Tanjung Balai Asahan, menjelaskan bahwa penelitian ini bertujuan untuk menilai kebersihan dan keamanan pangan (FHS) produk kerang, mengevaluasi pengendalian resmi yang ada saat ini terhadap moluska kerang di wilayah tersebut, dan mengidentifikasi persyaratan kebersihan dan keamanan pangan. ditegakkan oleh mitra dagang terpilih.
“Semua kegiatan ini dilakukan untuk memastikan dan menjaga kualitas produk kerang di wilayah Tanjung Balai Asahan, dengan tujuan memperluas pasar hingga skala global,” kata Pramana.
Lokakarya ini mempertemukan pemangku kepentingan lokal di sektor kerang. Hal ini mencakup personel dari Badan Penjaminan Mutu Kelautan dan Perikanan setempat, yang bertindak sebagai Otoritas Kompeten, perwakilan dari berbagai unit pengolahan, eksportir, nelayan, pejabat pemerintah daerah, dan petugas penyuluhan dari Dinas Perikanan Daerah. Di antara peserta tersebut adalah Bardi yang mewakili salah satu unit pengolahan lokal.
Lokakarya ini menggali lebih dalam tentang Sistem Sanitasi Kerang Indonesia, yang dituangkan dalam Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 17/MEN/2004, dengan Dr. Tri Handayani dari Kementerian Kelautan dan Perikanan hadir sebagai perwakilannya. Sistem ini bertujuan untuk memandu para petani ikan, nelayan, pengolah, pedagang, konsumen, dan pengawas mutu di Indonesia dalam penangkapan, penanganan, produksi, dan pengendalian mutu kerang. Hal ini diterapkan baik dalam produksi maupun distribusi untuk pasar ekspor dan domestik, untuk memastikan bahwa kerang Indonesia aman untuk dikonsumsi lokal dan cocok untuk ekspor.
Dalam lokakarya tersebut, Prof Etty Riani, Pakar Senior Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan ARISE+ Indonesia dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, memaparkan hasil pengujian sampel kerang yang dikumpulkan dari berbagai lokasi penangkapan ikan di wilayah Tanjung Balai Asahan. Kabar baiknya ia berbagi, bayi kerang asal kawasan Tanjung Balai Asahan memiliki kualitas yang baik dan aman untuk dikonsumsi langsung. Bebas dari biotoksin, timbal, merkuri, dan kadmium sehingga cocok untuk diekspor ke Tiongkok, Australia, Amerika, dan Uni Eropa. Namun, di salah satu lokasi penangkapan ikan kerang, kadar kadmium ditemukan sedikit melebihi ambang batas yang ditetapkan untuk ekspor ke Uni Eropa, suatu situasi yang disebabkan oleh kontaminan logam berat yang mencemari laut. Kadmium dianggap sebagai agen penyebab kanker ketika menumpuk di dalam tubuh.
“Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk menjaga lingkungan dan mencegah semua limbah cair, khususnya limbah bahan berbahaya dan beracun, mencemari air laut kita,” tegas Prof. Riani.
Bardi mengungkapkan rasa bangga dan bahagianya atas hasil pengujian kerang yang semakin menguatkan kiprahnya sebagai QC Officer. “Selama ini kerang Tanjung Balai Asahan mendapat pujian dari Malaysia sebagai salah satu yang terbaik, terkenal dengan cita rasa khasnya,” kata Bardi.
Lokakarya ini juga membahas penyebab menurunnya jumlah tangkapan kerang dan mencari solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Prof Riani mengidentifikasi degradasi lingkungan, penangkapan ikan yang berlebihan, dan penggunaan alat penangkapan ikan yang merusak sebagai faktor utama yang berkontribusi terhadap penurunan populasi kerang.
“Oleh karena itu, menerapkan praktik penangkapan ikan yang berkelanjutan sangatlah penting. Artinya, menghindari peralatan penangkapan ikan yang merusak dan mempertimbangkan dengan cermat siklus hidup kerang,” tegas Prof. Riani.
Menanggapi lokakarya peningkatan kapasitas, Monikawati, inspektur mutu di SKIPM Tanjung Balai Asahan, memuji acara yang telah mempertemukan seluruh pemangku kepentingan di sektor kerang TBA dengan materi yang komprehensif.
“Informasi yang disampaikan dalam workshop ini sangat bermanfaat bagi kami dalam melakukan surveilans mutu dan mendorong unit pengolahan untuk menerapkan sanitasi kerang,” kata Monikawati.
Isma Amelia, penyuluh dari Dinas Perikanan setempat, berkomentar bahwa informasi mengenai kontaminasi residu dan persyaratan ekspor sangat berguna dan dapat mendukung tugasnya dalam memberikan penyuluhan kepada nelayan dan petani ikan tentang sanitasi kerang.
Menanggapi hasil tangkapan kerang yang cenderung menurun setiap tahunnya, Isma menyarankan, “Mungkin perlu dilakukan kajian lebih lanjut terkait siklus hidup kerang dan faktor-faktor yang mempengaruhi kelestariannya, sehingga nelayan dapat melakukan penangkapan ikan kerang yang berkelanjutan."