Bantuan Teknis II

Dalam lingkungan perdagangan global saat ini, bahan referensi memainkan peranan penting. Zat standar ini, yang sifat-sifatnya telah diketahui, sangat penting untuk memastikan hasil pengujian yang akurat dan andal. Mereka memberikan tolok ukur yang konsisten, memastikan prosedur dan standar pengujian selaras di seluruh wilayah dan industri. Bagi pelaku bisnis, materi referensi sangat penting untuk memverifikasi kualitas dan keamanan produk, sehingga membantu mereka mengakses pasar baru dengan percaya diri. Selain itu, dalam bidang penelitian dan pengembangan, mereka berperan penting dalam memvalidasi produk baru dan meningkatkan proses.
Mengingat pentingnya peran bahan referensi dalam perdagangan internasional, terdapat potensi pasar yang berkembang untuk bahan referensi ini dalam industri pengujian. Seiring dengan pertumbuhan perdagangan global, permintaan akan bahan-bahan ini pun meningkat, dengan sektor-sektor seperti obat-obatan, makanan dan minuman, serta pemantauan lingkungan menjadi yang terdepan.
Namun, perkembangan Penyedia Bahan Referensi (RMP) di Indonesia berjalan lambat. Meskipun Komite Akreditasi Nasional (KAN) memperkenalkan skema akreditasi untuk RMP pada tahun 2014, hanya tiga laboratorium yang mendaftar sebagai Penyedia Bahan Referensi. Menyadari kesenjangan tersebut, Badan Standardisasi Nasional bekerja sama dengan ARISE+ Indonesia menyelenggarakan Webinar RMP pada tanggal 30 September 2023 yang mempertemukan lebih dari 100 laboratorium pemerintah dan swasta. Tujuan utama webinar ini adalah untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya bahan referensi dan memberikan pencerahan kepada laboratorium tentang potensi besar dalam sektor RMP.
Dalam sambutannya, Sekretaris Utama Badan Standardisasi Nasional (BSN) sekaligus Pj Deputi Akreditasi, Bapak Donny Purnomo, menyampaikan harapannya agar webinar ini dapat menginspirasi lebih banyak laboratorium untuk mempertimbangkan pendaftaran sebagai RMP.
“Bahan Acuan merupakan komponen penting baik dalam Infrastruktur Mutu Ekspor maupun Sistem Penjaminan Mutu Nasional di Indonesia,” tegas Donny.
Lebih lanjut beliau mencatat bahwa Indonesia mempunyai kebutuhan mendesak akan lebih banyak produsen bahan referensi yang dapat menawarkan referensi uji komparatif, pengendalian mutu internal, dan pengendalian mutu eksternal.
“Hal ini bukan hanya tentang memastikan akurasi pengujian tetapi juga tentang menegaskan kedaulatan nasional kita. Mendapatkan bahan referensi tertentu sering kali menjadi tantangan karena adanya pembatasan ekspor/impor,” tambah Donny.
Dalam webinar tersebut, Direktur Harmonisasi Sistem dan Akreditasi, Sugeng Raharjo, dan Pakar Senior Materi Referensi ARISE+ Indonesia, Dr. Angelique Botha, berperan sebagai presenter. Bapak Sugeng menjelaskan persiapan yang diperlukan untuk menjadi Produsen Bahan Referensi (RMP) dan membahas kondisi RMP saat ini. Di sisi lain, Dr Botha memberikan wawasan mengenai statistik global mengenai RMP dan menyoroti standar baru yang berkaitan dengan produksi dan pemanfaatan bahan referensi.
Salah satu peserta, Annisa, seorang Manajer Laboratorium di laboratorium swasta sektor batubara, berpendapat bahwa konten webinar ini sangat berharga. Beliau mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas wawasan yang diperoleh dari sesi RMP.
“Insight yang didapat dari webinar RMP sangat mencerahkan. Ilmu yang kami peroleh sangat berperan dalam menentukan pilihan bahan referensi yang lebih baik, termasuk untuk sektor kami,” kata Annisa.
Webinar ini selanjutnya akan disertai dengan serangkaian pelatihan RMP QMS berdasarkan standar ISO 17034 dan diakhiri dengan sesi networking bisnis.