
Mempromosikan Produk Indikasi Geografis Indonesia melalui Acara Kuliner
Tidak banyak dari kita yang mengenal Indikasi Geografis (GI). Jika anda pernah mendengar atau mengonsumsi Kopi Arabika Gayo, Teh Java Preanger, Kayu Manis Koerintji, Lada Luwu Timur, Garam Amed Bali, Cengkih Moloku Kie Raha, Pala Siaw, dan Madu Sumbawa, untuk beberapa nama, berarti anda pernah menemukan GI. Daftar singkat ini hanyalah segelintir produk pertanian di antara 90 nama lain yang sudah dilindungi sebagai GI Indonesia.
Jadi, apa sih GI itu?
Geographical Indications (GI) atau Indikasi Geografis dalam bahasa Indonesia adalah tanda pembeda yang digunakan untuk mengidentifikasi suatu produk yang kualitas, reputasi, atau ciri lainnya terkait dengan asal geografisnya.
Konsep GI berasal dari Prancis. Ini adalah bagaimana iklim, tanah, dan medan wilayah tertentu memengaruhi cita rasa produk pertanian. Konsep GI paling baik digambarkan melalui Champagne asal Prancis. GI dapat digunakan untuk berbagai produk termasuk bahan makanan, minuman, dan kerajinan tangan. Asal spesifik produk GI dan keunikannya membedakannya dari produk sejenis lainnya dan memberikan hak perlindungan di bawah Hukum Kekayaan Intelektual.
ARISE+ Indonesia yang didanai oleh Uni Eropa, di bawah naungan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJIP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dan Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, menggelar serangkaian acara kuliner bertajuk Duta Memasak. Acara ini bertujuan untuk menampilkan penggunaan GI pertanian Indonesia sebagai bahan makanan dalam masakan tradisional Eropa dan Indonesia.
Deputi Direktur Unit Kerja Sama Internasional DJKI, Fajar Sulaeman, mengatakan, "Ini tentu saja merupakan inisiatif kampanye yang sangat baik dari ARISE+ Indonesia dalam mendukung promosi GI Indonesia, oleh karenanya kami tentu ingin melihat lebih banyak lagi GI pertanian pangan Indonesia digunakan di berbagai bidang makanan dan kuliner. Selain itu, label GI adalah untuk menjamin keaslian kepada konsumen yang kemudian dapat memastikan kualitas produk yang mereka beli."
Pembawa acara tersebut adalah chef selebriti Indonesia Bara Pattiradjawane dan Imam Ragil Wibowo, dan kolumnis makanan Santhi Serad. Ketiga pertunjukan tersebut masing-masing menampilkan Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, H.E. Vincent Piket; Duta Besar Hongaria untuk Indonesia, H.E Judith Pach; dan Kuasa Usaha Kedutaan Polandia, Bapak Piotr Firlus sebagai Tamu Istimewa. Bersama dengan salah satu koki, mereka mendemonstrasikan pembuatan masakan Eropa sederhana yang meliputi Lecsó, sup lada kuning tradisional Hongaria; Pierogi, pangsit sayur tradisional Polandia; dan Hachée, sup daging sapi dan bawang tradisional Belanda. Minuman pelengkap yang disajikan selama pertunjukan meliputi Kopi Arabika Gayo, Teh Java Preanger, Sup Apel ala Hungaria, Kompot Buah yang terinspirasi Polandia, dan Saraba minuman berbumbu dari Sulawesi.
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Yang Mulia Vincent Piket mengatakan, "Saya senang berpartisipasi dalam acara kuliner Duta Memasak yang diselenggarakan oleh ARISE+ Indonesia. Ini adalah inisiatif pemasaran yang bagus untuk meningkatkan kesadaran akan penggunaan Indikasi Geografis dalam kuliner. Uni Eropa dan Indonesia akan terus mendorong pengembangan dan promosi Indikasi Geografis secara bersama-sama di kedua wilayah tersebut.”
Tiga belas GI Indonesia yang ditampilkan dalam acara tersebut:
Tidak banyak dari kita yang mengenal Indikasi Geografis (GI). Jika anda pernah mendengar atau mengonsumsi Kopi Arabika Gayo, Teh Java Preanger, Kayu Manis Koerintji, Lada Luwu Timur, Garam Amed Bali, Cengkih Moloku Kie Raha, Pala Siaw, dan Madu Sumbawa, untuk beberapa nama, berarti anda pernah menemukan GI. Daftar singkat ini hanyalah segelintir produk pertanian di antara 90 nama lain yang sudah dilindungi sebagai GI Indonesia.
Jadi, apa sih GI itu?
Geographical Indications (GI) atau Indikasi Geografis dalam bahasa Indonesia adalah tanda pembeda yang digunakan untuk mengidentifikasi suatu produk yang kualitas, reputasi, atau ciri lainnya terkait dengan asal geografisnya.
Konsep GI berasal dari Prancis. Ini adalah bagaimana iklim, tanah, dan medan wilayah tertentu memengaruhi cita rasa produk pertanian. Konsep GI paling baik digambarkan melalui Champagne asal Prancis. GI dapat digunakan untuk berbagai produk termasuk bahan makanan, minuman, dan kerajinan tangan. Asal spesifik produk GI dan keunikannya membedakannya dari produk sejenis lainnya dan memberikan hak perlindungan di bawah Hukum Kekayaan Intelektual.
ARISE+ Indonesia yang didanai oleh Uni Eropa, di bawah naungan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJIP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dan Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, menggelar serangkaian acara kuliner bertajuk Duta Memasak. Acara ini bertujuan untuk menampilkan penggunaan GI pertanian Indonesia sebagai bahan makanan dalam masakan tradisional Eropa dan Indonesia.
Deputi Direktur Unit Kerja Sama Internasional DJKI, Fajar Sulaeman, mengatakan, "Ini tentu saja merupakan inisiatif kampanye yang sangat baik dari ARISE+ Indonesia dalam mendukung promosi GI Indonesia, oleh karenanya kami tentu ingin melihat lebih banyak lagi GI pertanian pangan Indonesia digunakan di berbagai bidang makanan dan kuliner. Selain itu, label GI adalah untuk menjamin keaslian kepada konsumen yang kemudian dapat memastikan kualitas produk yang mereka beli."
Pembawa acara tersebut adalah chef selebriti Indonesia Bara Pattiradjawane dan Imam Ragil Wibowo, dan kolumnis makanan Santhi Serad. Ketiga pertunjukan tersebut masing-masing menampilkan Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, H.E. Vincent Piket; Duta Besar Hongaria untuk Indonesia, H.E Judith Pach; dan Kuasa Usaha Kedutaan Polandia, Bapak Piotr Firlus sebagai Tamu Istimewa. Bersama dengan salah satu koki, mereka mendemonstrasikan pembuatan masakan Eropa sederhana yang meliputi Lecsó, sup lada kuning tradisional Hongaria; Pierogi, pangsit sayur tradisional Polandia; dan Hachée, sup daging sapi dan bawang tradisional Belanda. Minuman pelengkap yang disajikan selama pertunjukan meliputi Kopi Arabika Gayo, Teh Java Preanger, Sup Apel ala Hungaria, Kompot Buah yang terinspirasi Polandia, dan Saraba minuman berbumbu dari Sulawesi.
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Yang Mulia Vincent Piket mengatakan, "Saya senang berpartisipasi dalam acara kuliner Duta Memasak yang diselenggarakan oleh ARISE+ Indonesia. Ini adalah inisiatif pemasaran yang bagus untuk meningkatkan kesadaran akan penggunaan Indikasi Geografis dalam kuliner. Uni Eropa dan Indonesia akan terus mendorong pengembangan dan promosi Indikasi Geografis secara bersama-sama di kedua wilayah tersebut.”
Tiga belas GI Indonesia yang ditampilkan dalam acara tersebut:
- Nasi Adan Krayan dari Kalimantan Utara
- Vanili Kepulauan Alor dari Nusa Tenggara Timur
- Amed Salt Bali dari Bali
- Nasi Pandanwangi Cianjur dari Jawa Barat
- Lada Luwu Timur dari Sulawesi Selatan
- Kopi Arabika Gayo dari Takengon, Aceh, Sumatera
- Teh Java Preanger, dari Jawa Barat
- Kayu Manis Koerintji, dari Jambi, Sumatera Barat
- Gula Kelapa Kulon Progo Jogja dari Yogyakarta
- Cengkih Minahasa dari Sulawesi
- Cengkih Moloku Kie Raha dari Maluku
- Pala Siaw / Siau dari Sulawesi Selatan
- Madu Sumbawa dari Nusa Tenggara Barat