Kegiatan

Bantuan Teknis II

Mendorong penelitian dan pengembangan (R&D) bahan lokal dan investasi di industri kosmetik hulu, khususnya bahan baku, sangat dibutuhkan untuk mendukung produsen kecil menengah kosmetik Indonesia. Menurut data Kementerian Perindustrian, 70%-80% bahan baku kosmetik masih diimpor. Dengan demikian, pengembangan industri hulu diharapkan dapat mengurangi ketergantungan bahan baku impor, meningkatkan daya saing industri kosmetik Indonesia, dan meningkatkan partisipasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam Global Value Chains melalui ekspor produk Indonesia. bahan baku kosmetik.

Rekomendasi tersebut diajukan oleh Persatuan Kosmetika Indonesia PERKOSMI dan PPAK Indonesia dalam Focus Group Discussion bertajuk "Demystifying Global Value Chains in Indonesia's Cosmetics Sector" di Jakarta, yang diselenggarakan oleh Direktorat Pengembangan UMKM dan Koperasi Bappenas, dengan dukungan dari ARISE+ Indonesia, pada Selasa (08/11).

Dalam sambutan pembukaannya, Direktur UMKM dan Koperasi Bappenas, Bapak Ahmad Dading Gunadi, menyoroti manfaat dari partisipasi dalam Global Value Chains (GVCs). Menurut Bapak Dading, FGD bertujuan untuk mempertajam kebijakan dan memperkuat keterlibatan industri kosmetik Indonesia dalam GVC.

“Pemerintah Indonesia berkomitmen mendukung dan memperkuat UMKM di bidang kosmetik untuk meningkatkan partisipasi dalam GVCs karena hal ini sejalan dengan salah satu arah kebijakan dan strategi RPJMN 2020-2024,” ujar Dading.

Team Leader ARISE+ Indonesia Technical Assistance II, Mr Alessandro Martinatto, mengatakan bahwa diskusi tersebut tepat waktu karena rantai nilai regional dan global mengalami gangguan substansial akibat peristiwa geopolitik dan pandemi COVID-19 yang berdampak parah pada UMKM.

“ARISE+ Indonesia dengan senang hati mendukung dialog antara Pemerintah Indonesia dan sektor swasta ini untuk merumuskan kebijakan dan dukungan yang efektif guna mendorong partisipasi industri nasional dalam GVC,” kata Mr. Martinatto.

Berbicara pada FGD, Chief Scientific and Regulatory Affairs Officer L'Oréal Indonesia, Mr Rhadeya Setiawan, mengatakan bahwa L'Oréal Indonesia membangun model kolaborasi multi-stakeholder untuk mengembangkan bahan alami kosmetik Indonesia yang melibatkan universitas, kementerian dan lembaga dalam penskalaan. meningkatkan produksi berkelanjutan dari bahan-bahan alami standar.

Kepala Pusat Kebijakan Ekspor-Impor dan Pertahanan Dagang Kemendag Iskandar Panjaitan menyoroti nilai permintaan pasar kosmetik pada 2021 yang mencapai USD 126,1 miliar. Potensi berlimpah di pasar non-tradisional. Namun, tarif bea masuk yang tinggi, Tindakan Non-Perdagangan (NTM), dan persyaratan standar kualitas tinggi yang beralih ke kosmetik alami dan bersumber berkelanjutan adalah beberapa tantangan yang dihadapi perusahaan kosmetik Indonesia.

Direktur Pengembangan Pasar dan Informasi Ekspor Kementerian Perdagangan Marolop Nainggolan menegaskan kembali komitmen Pemerintah Indonesia untuk mendukung promosi ekspor.
Namun, Ibu Lena Prawira, CEO produsen tol kosmetik menengah di Jakarta, mengatakan bahwa dukungan promosi juga diperlukan untuk perdagangan layanan yang ditawarkan oleh produsen tol kosmetik Indonesia.

Peneliti dari Laboratorium Biologi Universitas Indonesia, Ibu Astari, mengatakan bahwa fasilitas penelitian universitas membutuhkan dukungan Pemerintah untuk mengembangkan teknologi laboratorium yang lebih maju untuk meningkatkan pengembangan bahan kosmetik lokal.

Diskusi yang dimoderatori oleh Bapak Muhammad Iqbal, pakar kemitraan strategis GVC, juga menghadirkan pembicara dan panelis terkemuka lainnya, seperti Wakil Ketua PERKOSMI, Bapak Patrick Kalona; Ketua PPAK Indonesia, Bapak Solihin Sofyan; Direktur Pengawasan Kosmetika, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Bapak Irwan; Asisten Deputi Kemitraan dan Perluasan Pasar, Kementerian Koperasi dan UKM, Ibu Destri Anna Sari; perwakilan Deputi Pengembangan Wilayah dan Rantai Pasokan, Kementerian Koperasi dan UKM; perwakilan Direktorat Industri Kimia Hilir dan Farmasi, Kementerian Perindustrian; perwakilan Direktorat Industri Aneka dan Industri Kecil Menengah Kimia, Sandang dan Kerajinan, Kementerian Perindustrian; perwakilan dari Pusdiklat SDM Ekspor dan Perdagangan Jasa, Kementerian Perdagangan.

Subscribe to the ARISE+ Indonesia newsletter