Bantuan Teknis II
Menjamin keamanan pangan kini menjadi keniscayaan bagi para pelaku usaha di bidang industri pangan, termasuk pertanian pangan dan perikanan. Tidak terkecuali industri rempah-rempah. Ini tidak hanya untuk melindungi konsumen dari risiko penyakit bawaan makanan tetapi juga untuk melindungi perusahaan pengolahan makanan dari penarikan kembali produk, yang mengakibatkan kerugian finansial dan kemungkinan tuntutan hukum karena produk yang tidak aman.
HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point) adalah sistem keamanan pangan yang dirancang untuk mengidentifikasi dan mengendalikan bahaya, termasuk mikrobiologi, kimia, fisik dan alergen yang mungkin terjadi dalam produksi pangan. Penerapan sistem HACCP saat ini menjadi komponen penting jaminan keamanan pangan dalam perdagangan internasional, terutama sejak diperkenalkan secara internasional oleh badan standar pangan PBB, Codex Alimentarius Commission (Codex), pada tahun 1993.
Dengan latar belakang tersebut, Kementerian Perdagangan, bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian dan dengan dukungan dari ARISE+ Indonesia, menyelenggarakan lokakarya peningkatan kapasitas tentang Implementasi dan Sertifikasi Sistem HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point).
Lokakarya empat hari ini dibagi menjadi dua gelombang. Hampir 200 pejabat fungsional di Direktorat Pengembangan Ekspor Produk Primer dan Direktorat Standardisasi dan Pengendalian Mutu, Kementerian Perdagangan, serta pelaku usaha, anggota Gabungan Produsen Makanan dan Minuman (GAPMMI) berpartisipasi secara daring dan tatap muka pertama kali. batch dilakukan pada tanggal 31 Oktober - 1 November 2022.
Gelombang kedua, 2-3 November 2022, diikuti secara daring dan tatap muka oleh lebih dari 200 pejabat fungsional industri dan perdagangan di Kementerian Perindustrian dan para pendamping UKM di Badan Standardisasi Nasional (BSN).
Secara resmi membuka lokakarya gelombang pertama, Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer, Kementerian Perdagangan, Ibu Merry Maryati, mendorong Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk mengimplementasikan HACCP untuk meningkatkan penjaminan mutu dan memfasilitasi rempah-rempah penerimaan produk di negara tujuan ekspor.
“Menerapkan HACCP mungkin mahal di awal, tapi pasti akan bermanfaat dalam jangka panjang,” kata Merry.
Dalam sambutan pembukaan lokakarya gelombang ke-2 ini, Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Perindustrian, Dadi Marhadi, mengatakan, “Workshop ini sangat penting untuk membantu UMKM kita agar dapat berpartisipasi dalam persaingan global. berdagang."
Senior Expert ARISE+ Indonesia Food Safety and Quality Assurance Nurdiansyah Yusup memfasilitasi pelatihan tersebut, dibantu oleh Senior Expert ARISE+ Indonesia Export Quality Arief Safari. Nurdiansyah menyampaikan kuliah di kelas tentang 12 langkah implementasi HACCP dan memberikan latihan praktis bagi peserta untuk mengembangkan dokumen HACCP.
Lokakarya ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan peserta dan pemahaman yang lebih baik tentang penerapan manajemen dan sertifikasi HACCP. Hal ini juga bertujuan agar para pejabat fungsional di kedua kementerian dapat membantu UMKM di sektor rempah-rempah.
Salah satu pengusaha peserta workshop, Rosita Suwardi, menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Perdagangan dan ARISE+ Indonesia yang telah mengundang UKM untuk berpartisipasi dalam workshop penting tersebut, terutama untuk usaha kecil seperti miliknya yang masih dalam proses berkembang dan baru saja menerima pesanan ekspor.
“Ilmu yang kami terima dari workshop tersebut sangat bermanfaat dan penting untuk memandu perencanaan kami dalam mengimplementasikan HACCP yang kini menjadi persyaratan wajib untuk ekspor,” ujar Rosita.