26 Januari 2023 - Bantuan Teknis II

Kajian Pembiayaan Ekspor yang dilakukan oleh Kementerian Bappenas bekerja sama dengan ARISE+ Indonesia mengungkapkan bahwa proporsi pembiayaan ekspor terhadap total ekspor di Indonesia relatif stagnan di bawah 10% selama beberapa tahun terakhir, sehingga mendorong tindakan perbaikan ke depan. Temuan dan rekomendasi awal Studi Pembiayaan Ekspor dipresentasikan dan dibahas dalam lokakarya yang diselenggarakan oleh Bappenas, dengan dukungan dari ARISE+ Indonesia, di Jakarta pada Selasa (24/01).
Lokakarya tersebut mempertemukan para pemangku kepentingan utama dalam pembiayaan ekspor dari pemerintah dan sektor swasta, termasuk Bank Indonesia Exim (LPEI), Bank Indonesia, Kementerian Perdagangan, bank swasta, perusahaan asuransi ekspor, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mendapatkan pandangan dan umpan balik untuk memastikan studi mencerminkan konteks Indonesia dan lingkungan pembiayaan ekspor.
Direktur Perdagangan, Investasi, dan Kerjasama Ekonomi Internasional, P.N. Laksmi Kusumawati, mengatakan kajian tersebut bertujuan untuk membantu mempertajam arah dan strategi ekspor dengan mengidentifikasi Kendala Pengikat ekspor Indonesia karena 66% eksportir mengalami keterbatasan akses pembiayaan. Kajian Pembiayaan Ekspor melengkapi kajian Grand Design Percepatan Ekspor sebagai latar belakang penyusunan RPJMN dan dokumen perencanaan lainnya.
“Studi Pembiayaan Ekspor ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi kepada pemerintah yang menjamin kemudahan akses pembiayaan bagi para pelaku usaha,” kata Ibu Laksmi.
Ketua Tim Technical Assistance II ARISE+ Indonesia, Alessandro Martinatto, mengatakan, “Kami sangat senang dapat mendukung Bappenas dalam melakukan kajian ini yang akan memungkinkan sektor bisnis, khususnya UKM, untuk meningkatkan ekspor, sehingga meningkatkan daya saing Indonesia. Saya percaya hal ini juga akan menguntungkan dan memperkuat kerja sama perdagangan antara UE dan Indonesia."
Studi ini mengidentifikasi isu-isu yang relevan tentang pembiayaan ekspor, termasuk akses dan jenisnya berdasarkan ukuran perusahaan eksportir, kondisi pembiayaan ekspor yang ada di seluruh wilayah Indonesia, program pembiayaan ekspor saat ini di sektor perbankan, menganalisis perilaku sektor perbankan dalam pembiayaan ekspor dan kebijakan pemerintah yang ada di bidang pembiayaan ekspor, dan melakukan analisis pembandingan pembiayaan ekspor di negara lain.
Menurut kajian tersebut, kurangnya kredibilitas usaha, terutama dari usaha mikro, kecil dan menengah, menjadi tantangan dalam mengakses pembiayaan ekspor. Minat perbankan Indonesia untuk meningkatkan pembiayaan ekspor juga relatif rendah karena risiko kredit ekspor yang tinggi, kumpulan eksportir yang terbatas, dan penetrasi asuransi kredit ekspor yang rendah.
Tim peneliti ARISE+ Indonesia dari Svara Institute, Made Suardhini, mengusulkan rekomendasi untuk mengatasi tantangan dalam meningkatkan pembiayaan ekspor di Indonesia, termasuk mengembangkan alat/kebijakan untuk membantu lembaga pembiayaan dalam memitigasi risiko, mengembangkan akses pembiayaan untuk segmen UMKM, dan mengurangi biaya terkait fasilitas ekspor.
Rini Satriani, Division Head Bank Exim Indonesia, berkomentar, "Terima kasih ARISE+ Indonesia. Ini seperti harapan baru bagi kami yang memiliki Grand Design percepatan ekspor sebagai panduan kami untuk meningkatkan pembiayaan ekspor."
Bagus Yuliantok, Kepala Divisi National Interest Account Bank Exim Indonesia, menambahkan, “Kami berharap sinergi dalam ekosistem ekspor dapat diperkuat melalui workshop ini untuk mendukung UKM kita dan meningkatkan ekspor.”
Yulianti, Analis Perdagangan Direktorat Fasilitasi Ekspor Impor, Kementerian Perdagangan, memuji kajian tersebut dan merekomendasikan kajian tambahan untuk mengembangkan skema pembiayaan ekspor syariah.
“Kami sedang memfasilitasi proyek percontohan yang baru saja diluncurkan untuk mendukung pembiayaan ekspor bagi UKM di provinsi Aceh yang menerapkan syariah. Namun, skema tersebut belum dikembangkan. Studi tersebut akan menguntungkan tidak hanya UKM di Aceh tetapi juga di seluruh Indonesia, apalagi dengan maraknya sektor keuangan syariah.”