Bantuan Teknis I

Kabupaten Jembrana yang terletak di bagian barat daya Bali dikenal secara internasional akan kualitas kakaonya yang tinggi. Kakao Jembrana memiliki reputasi karena pemilihan varietas tanaman yang baik dikombinasikan dengan kondisi geografis yang menguntungkan. Selain itu, petani Jembrana menerapkan subak abian, pengetahuan adat Bali yang diwariskan secara turun-temurun untuk mengelola air untuk pertanian. Berdasarkan prinsip subak abian, misalnya dengan mengadaptasi lanskap dan menanam tanaman lain di lahan kakao, petani dapat mengoptimalkan penggunaan air, menghemat biaya input, mempertahankan karakteristik alami tanah, dan mendapatkan profil rasa dan aroma yang unik.
Berdasarkan kekuatan kunci tersebut dan potensi pembangunan ekonomi berkelanjutan yang diwakilinya untuk seluruh kabupaten, maka Klaster Kakao Jembrana dipilih oleh pemerintah untuk menjadi salah satu penerima manfaat Masterplan Pengembangan UKM yang dipimpin oleh Bappenas dan Kementerian Pembangunan UMKM dan Koperasi.
Bappenas, dengan dukungan dari ARISE+ Indonesia, menyelenggarakan lokakarya di Jembrana pada tanggal 7 Maret 2023 untuk membahas kemungkinan jalur untuk meningkatkan rantai pasokan Jembrana ke pasar global, khususnya Eropa.
Workshop dibuka oleh Bupati I Nengah Tamba, dihadiri oleh Ahmad Dading Gunadi, Direktur Pembinaan UMKM dan Koperasi, Bappenas, dan Marc Kwai Pun, Team Leader, ARISE+ Indonesia First Technical Assistance Team. Sejumlah ahli dari pemerintah pusat, termasuk Bapak William Bere Ati, Penasihat Senior, Kementerian Pembangunan UMKM dan Koperasi, pemerintah daerah dan ARISE+ Indonesia. Beberapa tokoh Klaster Kakao Jembrana dan para pemangku kepentingan berpartisipasi dalam lokakarya tersebut, antara lain Ketut Wiadnyana, Ketua Koperasi Kerta Samaya Samaniya (KSS) dan Agung Widiastuti, Direktur LSM Kalimajari.
Bupati I Nengah Tamba berharap kakao menjadi salah satu pilar transformasi Jembrana menjadi kawasan ekonomi utama yang akan dipercepat dengan selesainya Denpasar - Gilimanuk pada 2026, yang akan mendorong konektivitas antara Bali dan Jawa. “Kami akan terus memperluas perkebunan kakao di semua desa agar setiap keluarga memiliki kesempatan untuk menghasilkan biji kakao yang berkualitas”, tegasnya.
Direktur Ahmad Dading Gunadi menjelaskan bahwa Proyek Pengembangan UKM bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah yang diperoleh petani dan produsen kecil. “Dokumen proyek menyatakan bahwa pada akhirnya sebagian besar nilai tambah dalam rantai pasokan harus tetap berada di tangan petani/produsen”. Salah satu cara untuk meningkatkan nilai tambah klaster adalah dengan mengintegrasikan lebih banyak proses transformasi, oleh karena itu Bappenas dan Kementerian Pembangunan UMKM dan Koperasi mengalokasikan hibah untuk memungkinkan klaster berinvestasi di pabrik pengolahan.
KSS membayangkan pembangunan tempat pabrik, dengan dukungan hibah pemerintah, untuk menggiling biji kakao, memproduksi cairan kakao dan akhirnya mentega kakao, keduanya merupakan produk setengah jadi untuk pembuatan cokelat. Mereka telah didorong untuk melakukan investasi ini setelah calon pembeli menyatakan minatnya pada produk tersebut.
Tim ARISE+ Indonesia mempresentasikan gambaran perekonomian sektor kakao. Ditunjukkan bahwa pasokan biji kakao dalam negeri Indonesia saat ini lebih rendah dari kapasitas penggilingan yang tersedia, sehingga harus mengimpor biji kakao untuk mengisi kekosongan tersebut. Presentasi tersebut juga menjelaskan pentingnya memperhatikan standar keamanan pangan selama proses transformasi, menjelaskan perlunya merancang pabrik berdasarkan standar tersebut dan memperoleh keterampilan yang memadai. Faktor-faktor tersebut akan menjadi kunci untuk dipertimbangkan ketika menilai kelayakan investasi yang diusulkan.
ARISE+ Indonesia juga mempresentasikan prototipe situs intelijen pasar di mana informasi tentang pasar kakao, terutama di UE, dapat diakses oleh bisnis. UE akan sangat menarik untuk produk yang memiliki label Indikasi Geografis, karena produk semacam itu umumnya memiliki harga yang mungkin dua kali lipat dari produk generik.
Informasi juga diberikan tentang persyaratan yang paling tepat yang dapat diterapkan koperasi untuk mengekspor barang mereka guna mengurangi risiko (misalnya, mempertimbangkan untuk menggunakan FCA daripada FOB).
Peserta aktif berkontribusi dalam diskusi. Penasihat Senior, Kementerian Pengembangan UMKM dan Koperasi, William Bere Ati, menggarisbawahi pentingnya memastikan bahwa permintaan pasar untuk mentega dan bubuk akan cukup untuk membuat investasi menguntungkan. Perwakilan pemerintah daerah lainnya juga menekankan pentingnya memiliki tim khusus yang terdiri dari personel terlatih untuk menangani proses transformasi serta pemeliharaan peralatan. Terlihat juga bahwa sebagian besar petani kakao sudah berusia lanjut dan industri serta koperasi tidak boleh meremehkan perlunya regenerasi dengan menyiapkan pengusaha muda untuk bisnis kakao.
Pemangku kepentingan utama klaster mengakui kekayaan informasi yang telah dibagikan selama diskusi, membuka perspektif baru untuk pengembangan klaster kakao dan khususnya proyek investasi.