Kegiatan

Bantuan Teknis II

Baru-baru ini, sebuah lokakarya peningkatan kapasitas diadakan untuk mengeksplorasi tren, ruang lingkup, dan implementasi ketentuan perdagangan dan lingkungan hidup dalam kerangka kerja sama perdagangan internasional saat ini, dengan fokus khusus pada implikasinya terhadap Indonesia. Diselenggarakan pada tanggal 24 Januari 2024 oleh Direktorat Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional (Ditjen ITN) Kementerian Perdagangan, bekerja sama dengan ARISE+ Indonesia, acara hybrid ini mempertemukan para negosiator perdagangan dan pengambil kebijakan dari berbagai kementerian, termasuk Kementerian Perdagangan, Luar Negeri, dan Kementerian Luar Negeri. Urusan, Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas.

Lokakarya ini merupakan bagian dari program peningkatan kapasitas yang lebih luas, yang mencakup pengembangan makalah tentang ketentuan lingkungan hidup dalam perjanjian perdagangan dan penyampaian sesi oleh Paul Baker dan Loan Lee, pakar senior ARISE+ Indonesia dari International Economics Consulting. Kegiatan yang dikoordinasikan oleh Widdi Mugijayani, Pakar Senior Kebijakan Perdagangan ARISE+ Indonesia, bertujuan untuk meningkatkan kemahiran Indonesia, khususnya dalam tindakan non-tarif (NTM), reformasi perdagangan, dan keberlanjutan.

Makalah ini menguraikan peran ganda perdagangan dalam kaitannya dengan perubahan iklim, dengan mengakui kontribusi perdagangan terhadap emisi gas rumah kaca dan potensinya sebagai bagian dari solusi melalui kebijakan mitigasi dan adaptasi. Laporan ini mencatat bahwa perdagangan bertanggung jawab atas sebagian besar emisi gas rumah kaca, terutama dari sektor energi dan transportasi (sebagaimana dinyatakan oleh Organisasi Perdagangan Dunia, 2021). Namun, perjanjian ini juga mengakui dampak positif perdagangan, seperti memfasilitasi pertukaran dan pengembangan teknologi ramah lingkungan, produk ramah iklim, dan praktik terbaik untuk mengurangi kerusakan lingkungan.

Ari Satria, Sekretaris Jenderal Ditjen ITN, menggarisbawahi pentingnya perspektif ini bagi Indonesia. Dia menyoroti inisiatif negara tersebut untuk memanfaatkan potensi ekspor Barang Lingkungan (EG) dan pengganti plastik. Upaya-upaya ini sejalan dengan tujuannya untuk melakukan transisi menuju perekonomian yang lebih ramah lingkungan, sebuah langkah penting dalam perjalanannya menjadi negara berpendapatan tinggi.

Bapak Ari menekankan komitmen Indonesia terhadap aksi iklim sambil memastikan bahwa perdagangan terus memberikan manfaat bagi pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Sebagai negara berkembang, ia menekankan perlunya lebih banyak waktu dan peningkatan kapasitas bagi Indonesia untuk mengadopsi dan menerapkan teknologi rendah karbon.

“Harmonisasi kebijakan perdagangan kita dengan tujuan lingkungan hidup sangatlah penting. Saya optimis bahwa lokakarya ini akan memberikan kontribusi wawasan berharga untuk mengembangkan rekomendasi kebijakan, membentuk posisi nasional kita, dan memperkuat peran kita dalam negosiasi terkait perdagangan dan lingkungan hidup,” ungkap Bapak Ari Wijayanto, Direktur Perundingan Organisasi Perdagangan Dunia, di bawah Ditjen ITN Kementerian Perdagangan, menyoroti data dari database WTO yang menunjukkan peningkatan signifikan dalam tindakan lingkungan oleh anggota WTO dalam beberapa dekade terakhir. Ia mencontohkan, pada tahun 2022 terdapat 3.599 tindakan lingkungan hidup, meningkat cukup besar dari 2.250 tindakan pada tahun 2021. Peningkatan komitmen lingkungan multilateral ini berperan penting dalam mengatasi degradasi lingkungan, terutama dalam konteks perubahan iklim.

“Para pejabat kita harus memupuk pengetahuan yang lebih dalam mengenai keterkaitan antara perdagangan dan lingkungan hidup. Mencapai keseimbangan yang tepat antara dua bidang penting ini adalah kunci keberhasilan kebijakan kita,” kata Wijayanto.

Lokakarya ini bertujuan untuk menjadi platform utama untuk mengumpulkan keahlian kolektif, memperluas pemahaman, menciptakan kerangka kerja bersama untuk mengatasi tantangan-tantangan ini, dan meningkatkan koordinasi di antara berbagai pemangku kepentingan.

Subscribe to the ARISE+ Indonesia newsletter