Kegiatan

Bantuan Teknis I

Di bawah naungan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (Ditjen Kekayaan Intelektual) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dan Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) Kementerian Perdagangan, program ARISE+ Indonesia meluncurkan secara virtual Pameran Indikasi Geografis Indonesia ( IGIS) 2022 pada Jumat (13/05). Peluncuran IGIS 2022 yang taglinenya “Meningkatkan Nilai Produk Agrifood Indonesia Berkualitas Tinggi Melalui Spektrum Indikasi Geografis” ditandai dengan webinar bertajuk “Halo Dari Negeri Rempah”. gastronomi dan industri ritel, antara lain Willian Wongso (Pakar Gastronomi), Helianti Hilman (Pendiri Javara), dan Maria Suwarni (Direktur Pemasaran dan Merchandising Ranch Market Group).

Webinar yang dipandu oleh Arto Biantoro, Brand Activist Indonesia ini membahas tentang nilai Indikasi Geografis Indonesia (IG) agrofood, penerapannya dalam kuliner dan gastronomi, termasuk resep-resep hebat dari chef selebriti, dan tips dan trik dalam mempromosikan dan memasarkan produk GI dan disiarkan langsung melalui saluran Youtube “Arise Plus Indonesia” .

IGIS 2022 bertujuan untuk menunjukkan bahwa Indikasi Geografis berada di luar masalah perlindungan Kekayaan Intelektual dan pengakuan hukum atas produk-produk yang diproses secara alami dan buatan tangan dan sebenarnya merupakan bagian dari warisan budaya Indonesia. IGIS 2022 mengajak semua pihak, mulai dari investor, eksportir, calon pembeli, asosiasi, pecinta kuliner, praktisi kuliner, pengusaha, pembuat kebijakan, dan penggiat merek lokal dan pemangku kepentingan GI, untuk mendukung pemberdayaan masyarakat, meningkatkan daya saing IG Indonesia, dan memperkuat Keaslian dan kualitas premium GI.

Direktur Merek dan Indikasi Geografis, Ditjen Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Kurniaman Telaumbanua, berharap IGIS terus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap IG Indonesia dan membuka akses pasar yang lebih luas.

“Harapannya, pasar lokal dan internasional semakin mengapresiasi produk Indonesia dengan label Indikasi Geografis,” ujar Bapak Kurniaman.

Dalam sambutannya, Ni Made Ayu Marthini, Direktur Kerjasama Pengembangan Ekspor, Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan, mengatakan, “Sudah waktunya untuk melipatgandakan upaya mempromosikan produk IG Indonesia karena GI menguntungkan petani dan melindungi hak kekayaan intelektual. ."

Kunci persaingan dan daya saing saat ini adalah keunikan, kualitas, dan reputasi produk, terutama di bidang makanan dan minuman. Demikian disampaikan Thibaut Portevin, Kepala Kerjasama Delegasi Uni Eropa di Jakarta. “Uni Eropa sebagai pasar terbesar untuk produk Indikasi Geografis sangat menghargai produk makanan dan minuman yang aman, bergizi tinggi dan berkualitas premium. Pada 2019, pasar Indikasi Geografis diperkirakan bernilai 74,76 miliar Euro dan mewakili 15,5%. dari total ekspor produk makanan dan minuman Uni Eropa".

Mr Portevin menambahkan, "Dengan melindungi produk Indikasi Geografis Indonesia di seluruh dunia, Indonesia dapat mencegah penipuan penggunaan nama IG sambil menjaga reputasi unggul produk budaya dan pertanian pangan Indonesia. Indikasi Geografis melindungi nilai-nilai lokal di tingkat global".

Hadir sebagai tamu istimewa pada webinar tersebut, Pakar Gastronomi legendaris Indonesia, William Wongso mengatakan bahwa rempah-rempah telah menjadi komoditas penting Indonesia dan telah menjadi bagian dari identitas Indonesia sebagai salah satu produsen rempah-rempah terkemuka di dunia. Dengan demikian, rempah-rempah Indonesia yang bersertifikat Indikasi Geografis memiliki potensi besar di pasar internasional, terutama sejak Pemerintah Indonesia mencanangkan program “Spices up the World” pada November 2021.

Di pasar domestik, Marketing and Merchandising Director Ranch Market Group, Maria Suwarni mengatakan, produk artisan memiliki potensi pasar yang besar. Namun, dia mengingatkan agar produsen lebih memperhatikan sertifikasi dan kesinambungan produk.

Herlianti Hilman, seorang influencer, social foodtrepreneur dan pendiri perusahaan makanan lokal Javara, menggarisbawahi pentingnya menjaga jaminan kualitas produk GI. “Kualitas dan keaslian premium adalah apa yang dijanjikan oleh sertifikasi GI, jadi produsen GI harus menepatinya. Jika tidak, itu akan menjadi bumerang,” kata Ibu Herlianti.

Dia juga menekankan pentingnya strategi harga yang realistis untuk produk GI, tidak terlalu mahal.

IGIS 2022 menggali keunikan dan karakteristik masing-masing Indikasi Geografis melalui video dokumenter, acara memasak, resep produk agri-food GI, talk show, dan webinar. IGIS menghadirkan sepuluh produk IG Indonesia pilihan, yaitu Beras Adan Krayan, Garam Amed Bali, Lada Luwu Timur, Kopi Arabika Gayo, Kayu Manis Koerintji, Gula Kelapa Kulonprogo Jogja, Teh Java Preanger, Lada Putih Muntok, Cengkih Minahasa dan Pala Siaw.

Untuk informasi lebih lanjut tentang kampanye IGIS, silakan kunjungi https://igis.id dan saluran media sosialnya.

Subscribe to the ARISE+ Indonesia newsletter