Kegiatan

Bantuan Teknis II

Yuliawati Cahyaningrum saat ini memulai perjalanan karirnya di Direktorat Perundingan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Dan partisipasinya baru-baru ini dalam lokakarya peningkatan kapasitas tentang Tindakan Non-Tarif (NTM) yang difasilitasi oleh ARISE+ Indonesia dapat bermanfaat bagi tujuan kariernya.

Young Trade Cooperation Analyst ini bergabung dengan Kementerian Perdagangan empat tahun lalu. Yulia kini menjadi bagian dari tim Transparansi dan Kepatuhan dengan tanggung jawab utama menjaga kebijakan perdagangan Indonesia sesuai dengan ketentuan WTO atau komitmen Indonesia terhadap WTO, meninjau kebijakan terkait perdagangan anggota WTO lainnya untuk memastikan kelancaran akses pasar bagi Indonesia untuk bermitra negara, serta memastikan transparansi yang juga merupakan kewajiban seluruh anggota WTO untuk dapat diakses dengan mudah oleh para pemangku kepentingan, terutama pelaku usaha. Ia menyadari bahwa dengan tanggung jawabnya, ia perlu terus meningkatkan kapasitasnya. Karena itu, ia sangat senang ketika ditawari untuk mengikuti workshop tersebut.

Yulia mengatakan, rangkaian workshop tersebut sangat penting karena penggunaan NTM di seluruh dunia semakin meningkat, berpotensi menjadi penghalang perdagangan, meskipun tujuan utamanya mungkin untuk memastikan kualitas, kesehatan dan keselamatan pelanggan atau melindungi lingkungan.

Menurut data Bank Dunia, di antara mitra impor utama Indonesia, Uni Eropa mencatat penggunaan NTM tertinggi. Lebih dari 90 persen dari semua impor ke Uni Eropa, baik dari segi lini produk maupun nilai perdagangan, tunduk pada setidaknya satu NTM. Rata-rata, NTM, sebagai setara ad-valorem (AVE), tiga kali lebih berat daripada tarif bea cukai reguler, terutama untuk usaha kecil dan menengah (UKM) negara berkembang.

Kementerian Perdagangan, dengan dukungan dari ARISE+ Indonesia, menyelenggarakan serangkaian pelatihan untuk memperkuat kapasitas analisis pejabat pemerintah untuk mengevaluasi dampak perubahan kebijakan di NTM. ARISE+ Indonesia juga memberikan saran teknis untuk mengembangkan kerangka kelembagaan untuk pelaporan NTM.

“Masalah krusialnya adalah bagaimana menggunakan NTM untuk kepentingan keuntungan kita dan bukan sebagai penghambat kepentingan perdagangan kita. Oleh karena itu, perlu dipahami prevalensi dan dampak NTMs terhadap perdagangan internasional melalui data NTMs, serta best practice pelaporan dan penanganan NTMs di tingkat bilateral, regional dan/atau multilateral,” ujar Yulia.

ARISE+ Pakar Senior Perdagangan dan Investasi Indonesia Widdi Mugijayani mengoordinasikan kegiatan dengan pengajuan yang didukung oleh International Economics Consulting (IEC) yang dipimpin oleh Paul Baker.

Seri pelatihan pertama pada 4-8 Juli 2022 berfokus pada peningkatan pemahaman teknis para pejabat tentang kerangka hukum saat ini yang mengatur NTM di tingkat multilateral dan bilateral.

Seri pelatihan kedua pada 25-28 Juli 2022 berfokus pada analisis dampak ekonomi NTM. Lokakarya pertama dan kedua dihadiri oleh pejabat pemerintah dari Bappenas, Kementerian Keuangan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Badan Standardisasi Nasional (BSN), Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementerian Pertanian, dan Karantina Ikan dan Badan Pemeriksa Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Sesi pelatihan ketiga dilakukan pada 22-25 November 2022, menggali lebih dalam model yang digunakan untuk menghitung Ad Valorem Equivalents (AVEs) dari NTM, dan memperkenalkan model perdagangan kepada para peserta untuk tujuan simulasi. Kursus ini didasarkan pada R, perangkat lunak komputasi statistik dan grafik sumber terbuka. Kali ini, hanya para analis perdagangan dan kebijakan dari Kementerian Perdagangan dan Bappenas yang mengikuti lokakarya tersebut.

Yulia memuji penyampaian lokakarya yang menggunakan pendekatan hybrid, dengan pembicara utama di ruangan dan sederet pembicara tamu utama bergabung dari jarak jauh. Ia mengatakan, "Kombinasi para ahli internasional dan lokal membuat materi lokakarya ini komprehensif dengan pengetahuan teknis, namun diperkaya dengan konteks Indonesia. Jadi, aplikatif."

Menurut Yulia, kehadiran fasilitator di ruangan yang sama dengan peserta juga efektif dan praktis membantu peserta memahami pelajaran yang sulit, terutama pada pelajaran statistika dan software pada workshop ketiga. Ia juga memuji keterampilan komunikasi para pelatih yang dapat menyampaikan materi yang rumit dengan cara yang mudah dipahami.

Tim pelatih dari IEC memfasilitasi tiga rangkaian lokakarya, antara lain Pablo Quilles, Paul Baker, Alexey Kravchenko, Christina Ruth Elisabeth, M. Dian Revindo, Ferdi Ferdian, Loan Le David Vanzetti, dan Ria Roy. Lokakarya tersebut juga menampilkan beberapa pembicara tamu, termasuk Yann Duval (Kepala Unit Fasilitasi Perdagangan, Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik) dan Ralf Peters (Kepala Bagian Informasi Perdagangan UNCTAD dari Cabang Analisis Perdagangan).

Menurut Yulia, materi pelatihan sangat bermanfaat dan menambah wawasan, terutama gambaran umum tentang NTMs yang memberinya perspektif baru dan memperkuat pengetahuan dasar tentang NTMs.

“Itu adalah pengalaman yang sangat membuka mata. Kami sekarang memiliki pemahaman yang lebih baik dan mendalam tentang NTMs,” ujar Yulia dengan semangat.

Pelatihan tersebut juga membekali Yulia dengan pemikiran analitis dan logis, yang bermanfaat bagi seorang analis seperti dirinya. Pemikiran analitis dan logis tidak hanya meningkatkan kapasitas Yulia tetapi keterampilan komunikasi dan presentasinya juga meningkat. Dan itu sangat membantu karena dia sekarang harus berbagi dan mentransfer pelajaran dan pengetahuannya dari lokakarya kepada rekan-rekannya.

Yulia merasa bersyukur bahwa peningkatan ilmu yang didapat dari pelatihan tersebut akan mendukungnya dalam mengemban tugas yang dipercayakan kepadanya untuk memimpin review kebijakan perdagangan Indonesia selama satu tahun agar tetap sesuai dengan ketentuan WTO.

“Terima kasih, ARISE+ Indonesia. Saya yakin karya saya yang lebih baik akan berkontribusi dalam mendukung perdagangan dan daya saing kita,” tutup Yulia. Dengan peningkatan kapasitas dan dedikasinya, bukan hanya karirnya yang akan bersinar tetapi juga masa depan perdagangan dan daya saing Indonesia yang didukung oleh analis perdagangan seperti Yulia.

Subscribe to the ARISE+ Indonesia newsletter