
Oxford Economics memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat sebesar 6,2% pada tahun 2022, didukung oleh konsumsi dan investasi. Pengeluaran konsumen diperkirakan akan meningkat pada 2022 dan 2023 karena permintaan diperkirakan akan meningkat pada 2022, terutama dengan peningkatan vaksinasi yang akan memungkinkan pembukaan kembali aktifitas perekonomian yang berkelanjutan. Meskipun prospek pemulihan ekonomi cukup kuat, beberapa elemen ketidakpastian dan risiko terus membayangi perkiraan pertumbuhan Indonesia.
Senior Economist Oxford Economics, Sung Eun Jung, memaparkan prospek ekonomi Indonesia 2021-2022 dalam diskusi triwulanan dengan Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), yang difasilitasi oleh ARISE+ Indonesia pada Jumat (19/11).
Menurut Sung, pandemi Covid-19 yang tidak pasti dan berkepanjangan akan menunda pemulihan pertumbuhan hingga ke tahun 2023, dan 2022 akan mengalami pertumbuhan yang rendah di bawah tren setelah terkontraksi pada 2020.
Sung menambahkan bahwa pemulihan 2022 juga akan melambat jika upah rata-rata yang menopang konsumsi rumah tangga tidak membaik. Prospek kenaikan inflasi juga dapat mengganggu stabilitas menuju pemulihan.
Dari sisi kebijakan makro, kebijakan fiskal dan moneter secara bertahap akan diperketat dalam jangka menengah. Belanja pemerintah diperkirakan akan meningkat tahun depan (2022) dengan lebih banyak penerimaan pajak masuk dan anggaran pemulihan ekonomi tahun 2021 yang belum dibelanjakan. Utang pemerintah akan tetap di bawah ambang batas PDB 60% selama otoritas tetap menjaga konsolidasi fiskal, bahkan jika terjadi beberapa penundaan dalam mencapai target.
Tahun ini, neraca transaksi berjalan diperkirakan akan berubah sedikit positif karena surplus perdagangan barang pada Q3 2021 tetapi kembali menjadi sedikit defisit pada tahun depan.
Di tingkat global, pemulihan ekonomi antar negara tidak berjalan seimbang di tahun 2021 dan 2022. Alasan utamanya adalah bahwa negara-negara tersebut berada pada tahap program vaksinasi yang berbeda-beda.
Selama presentasi tentang prospek ekonomi global, Tom Rogers, Ahli Ekonomi Makro Senior di Oxford Economics, menyoroti bahwa beberapa ekonomi, termasuk AS, Zona Euro, dan pasar negara berkembang di luar Asia mengalami tingkat inflasi tercepat selama satu dekade, sekitar 4,5%. Sebaliknya, inflasi di China, pasar negara berkembang di Asia terkendali dengan baik di sekitar 3%. Disparitas terutama dapat disebabkan oleh perbedaan perilaku konsumen di berbagai negara.
Kekurangan dan backlog dalam rantai industri global menghentikan pertumbuhan ekonomi di AS dan Eropa, dan gangguan tersebut dapat berlangsung hingga paruh kedua tahun depan.
Sektor jasa, seperti akomodasi, transportasi, penyimpanan, dan komunikasi, akan memimpin pemulihan ekonomi global selama 2022.
Kebijakan fiskal akan menurunkan pertumbuhan AS pada 2022, sekitar enam persen dari PDB. Tiongkok juga mengalami perlambatan ekonomi. Real estate di Tiongkok, yang menyumbang sekitar seperempat dari PDB, dapat menjadi faktor risiko bagi pertumbuhan Tiongkok dan dampaknya, secara implikasi, merupakan faktor risiko bagi ekonomi dunia secara lebih umum.
Diskusi triwulanan ini merupakan bagian dari program peningkatan kapasitas untuk meningkatkan pemodelan dan perkiraan ekonomi Indonesia yang difasilitasi oleh ARISE+ Indonesia yang didanai oleh Uni Eropa. Proyeksi tersebut mendukung analisis kebijakan ekonomi yang dilakukan oleh Bappenas.
Materi Presentasi