Perspektif

Penguatan UMKM diprioritaskan dalam Undang-Undang Penciptaan Lapangan Kerja Nomor 11 Tahun 2020 dan dilaksanakan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan, Perlindungan, dan Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), sebagai bagian dari Upaya pemerintah untuk mewujudkan Visi Indonesia 2045 menjadi negara berpenghasilan tinggi dan lolos dari Middle Income Trap. Di tengah pandemi, penguatan UMKM menjadi prioritas untuk mendorong pemulihan ekonomi.

Bappenas dan Kementerian Koperasi dan UMKM bersama-sama mengerjakan Major Project Pengelolaan UMKM Terpadu, sebuah program yang terdiri dari merancang dan merintis pendekatan baru untuk mengembangkan UMKM.

Kami mendapat kehormatan untuk berbicara dengan Direktur Pembinaan UMKM dan Koperasi, Bappenas, Dr Ahmad Gunadi Dading, M.A., mengenai program pengembangan tersebut.
Berikut petikan wawancara tersebut.

 

T: Apa arti UMKM bagi perekonomian Indonesia? Apa yang menjadi visi UMKM Indonesia ke depan?

J: UMKM memiliki peran vital dalam perekonomian kita, menyumbang 61,97% dari PDB nasional saat ini (data 2021). Sedikit menurun selama pandemi Covid-19, tetapi bangkit kembali dengan cepat. UMKM terbukti cukup tangguh dalam mengatasi berbagai kendala. Pandemi memang membuat mereka kolaps, namun banyak dari mereka yang berinisiatif untuk mengadaptasi dan mengubah model bisnis mereka agar tetap bertahan, misalnya dengan beralih bisnis online.

Saat ini, UMKM menyumbang 96,9% dari seluruh unit usaha yang ada. Jadi, sudah pasti jika kita memperkuat UMKM, struktur ekonomi kita akan semakin kokoh karena UMKM menyerap lebih dari 90% tenaga kerja.

Dari data tersebut, kita dapat melihat pentingnya UMKM dalam mendukung perekonomian kita dan potensi untuk berkontribusi lebih besar lagi terhadap PDB kita. Mengingat peran strategis UMKM dalam perekonomian kita, maka kita harus memberdayakan pengusaha dan terus memperkuat UMKM serta memacu pertumbuhannya melalui kebijakan dan program agar mampu berdaya saing, terintegrasi secara regional atau global, tangguh, berkelanjutan, inovatif, dan responsif terhadap kemajuan teknologi.

 

T: Bisakah Anda memberi tahu kami tentang Major Project Pengelolaan UMKM Terpadu dan bagaimana program ini sesuai untuk mencapai visi UMKM di masa depan?

J: Major Project Pengelolaan UMKM Terpadu merupakan pendekatan kolaboratif dan sinergis yang melibatkan berbagai kementerian/lembaga untuk mengembangkan UMKM pada komoditas tertentu di satu wilayah tertentu.

Kami memberikan dukungan yang komprehensif mulai dari hulu hingga hilir. Dari sisi hulu, fokusnya adalah memastikan ketersediaan dan akses bahan baku yang digunakan UMKM untuk produksi. Di sisi hilir, kami memfasilitasi UMKM untuk mencari pasar. Selain itu, kami juga akan memfasilitasi standardisasi dan sertifikasi produk serta memberikan akses pembiayaan untuk mendukung proses produksi. Pemerintah juga akan memfasilitasi pendampingan teknis dan pembinaan pengusaha untuk setiap komoditas dan lokasi selama tiga tahun untuk meningkatkan kompetensi dan kapasitas mereka untuk berkolaborasi dengan multi-mitra dan berpartisipasi dalam rantai nilai.

Pada tahun 2022, Major Project Pengelolaan UMKM Terpadu akan fokus pada lima komoditas terpilih di lima provinsi sebagai sektor prioritas: minyak nilam di Aceh, rotan di Jawa Tengah, jahe sebagai produk biofarmasi di Kalimantan Timur, kelapa di Sulawesi Utara dan sapi di Timur Nusa Tenggara. Saat ini kami sedang melakukan asesmen untuk mengidentifikasi lima komoditas dan lokasi lain untuk didukung melalui Major Project pada tahun 2023. Dengan berakhirnya Major Project pada tahun 2025, kami berharap rantai nilai akan terbentuk dan berjalan dengan baik.
Tujuan dari Major Project ini adalah untuk meningkatkan kontribusi UMKM terhadap ekspor nonmigas dan PDB serta meningkatkan rasio kewirausahaan. Tujuannya tidak hanya untuk membentuk rantai nilai dalam suatu proses bisnis, tetapi yang terpenting adalah meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan UMKM.

 

T: Apa perbedaan antara pendekatan baru dalam Major Project Pengelolaan UMKM Terpadu ini dengan program pengembangan UMKM sebelumnya?

J: Pemerintah telah mendukung dan memberdayakan UMKM, tetapi programnya tersebar di kementerian dan lembaga. Kali ini, kami meningkatkan kerjasama, sinergi dan koordinasi lintas kementerian/lembaga dalam pelaksanaan Proyek Besar, termasuk mensinergikan dukungan dengan pemerintah daerah dan off-taker dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan swasta. sektor. Kami fokus pada komoditas yang sama dan menyinkronkan program kami untuk memberikan dukungan terintegrasi kepada UMKM untuk mencapai hasil yang lebih baik. Off-taker ini merupakan elemen penting dalam pendekatan ini untuk memastikan proses bisnis berjalan dalam rantai nilai.

 

T: Dukungan koordinasi lintas kementerian/lembaga mungkin sulit, jadi bagaimana memastikan koordinasi yang lancar?

J: Ini memang menjadi tantangan. Oleh karena itu, kita harus membangun komitmen, memperkuat kerja sama dan koordinasi, serta memperjelas peran masing-masing pemangku kepentingan sejak awal. Kami mengadakan pertemuan-pertemuan secara serial untuk sinkronisasi kegiatan dan anggaran lintas direktorat di lingkungan Bappenas, serta dengan berbagai kementerian dan lembaga terkait yang terlibat dalam Major Project ini.

Sebagai Kementerian PPN, tugas kami adalah merancang program, merencanakan anggaran, dan memantau pelaksanaannya. Kementerian Koperasi dan UMKM memimpin pelaksanaannya, dan kementerian/lembaga terkait lainnya berkontribusi sesuai tugas dan fungsinya.

Sekretariat Proyek Besar ini dibentuk di Kementerian Koperasi dan UMKM dan didukung oleh tim sekretariat yang berdedikasi dan tenaga ahli untuk mengawasi dan memastikan pelaksanaan teknis berjalan lancar. Kanwil UMKM akan mendukung koordinasi di tingkat lapangan.

Jadi, menjaga kolaborasi, komunikasi, dan koordinasi yang kuat sangat penting untuk keberhasilan proyek.

 

T: Bagaimana cara petani atau UMKM mengakses dukungan dari Major Project ini?

J: UMKM/petani yang terlibat dalam produksi dan pemasaran komoditas prioritas/terpilih dapat mengakses dukungan tersebut dengan bergabung dalam koperasi yang sudah mapan. Pelaksanaan Major Project ini akan dikelola melalui Rumah Produksi Bersama untuk mengintegrasikan dan mensinergikan produksi dari hulu hingga hilir dalam satu cluster. Para pelaku UMKM di lima lokasi dan komoditas terpilih dapat menghubungi Dinas Koperasi dan UMKM masing-masing untuk informasi lebih lanjut.

 

T: Digitalisasi akan membuka lebih banyak peluang bagi UMKM dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Apa strategi dan dukungan Pemerintah untuk meningkatkan digitalisasi UMKM?

J: Indonesia telah memulai digitalisasi, tetapi pandemi membantu memicu momentum untuk mempercepat transformasi digital. Digitalisasi telah memungkinkan UMKM untuk tetap produktif dan bertahan selama pandemi. Sekarang e-commerce berkembang pesat dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian. Kami akan terus mendorong UMKM untuk memperluas pasar secara digital.

Namun ke depan, kita juga perlu memacu inisiatif digitalisasi sektor produksi untuk meningkatkan efisiensi dan lebih kompetitif. Beberapa start-up sudah mulai membuat aplikasi atau sistem digital untuk pertanian dan peternakan, misalnya mengatur pakan ternak dan penyiraman lahan secara digital. Memanfaatkan blockchain untuk jaminan kualitas dan keterlacakan juga penting.

Yang terakhir namun juga tak kalah penting adalah peningkatan literasi digital dan etika digital juga penting. Selain pengembangan infrastruktur, Pemerintah telah menyiapkan berbagai macam pelatihan untuk mendorong serapan digital bagi UMKM.

 

T: Bagaimana bantuan teknis ARISE+ Indonesia dapat masuk ke dalam agenda ini, terutama dalam mendorong UKM untuk meningkatkan partisipasi mereka dalam GVC?

J: Sebagai program bantuan teknis untuk meningkatkan daya saing ekspor perdagangan Indonesia, ARISE+ Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis dalam mendukung pelaksanaan Proyek Utama Pengembangan UMKM Terpadu, terutama di sisi hilir. Ada banyak hal yang dapat dibantu oleh ARISE+ Indonesia. Kami mengucapkan terima kasih kepada ARISE+ Indonesia yang telah memfasilitasi forum pertemuan antara UMKM dan pembeli Eropa untuk membahas potensi dan tantangan ekspor komoditas pilihan ke Eropa. Hasil diskusi ini kami gunakan sebagai bahan masukan untuk persiapan Proyek Besar. Jaringan yang mapan dengan pembeli Eropa yang difasilitasi oleh ARISE+ Indonesia merupakan modalitas yang signifikan untuk melaksanakan Proyek Utama. Selain itu, informasi dari pembeli tentang persyaratan ekspor juga penting dan berharga bagi UMKM. Kedepannya, ARISE+ Indonesia mungkin dapat memfasilitasi pengembangan semacam portal informasi ekspor dengan menggunakan informasi yang ada agar mudah diakses dan dipahami oleh UMKM.

Subscribe to the ARISE+ Indonesia newsletter