
Pemerintah Indonesia sedang mengkaji rencana makroekonomi untuk mengembalikan perekonomian ke kinerja sebelum pandemi. Dengan dukungan ARISE+ Indonesia, Direktorat Perencanaan Makro dan Analisis Statistik Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyelenggarakan Webinar Global and Indonesia Economic Outlook pada hari Jumat, 20 Agustus untuk melihat analisis tren terbaru dan mempertimbangkan opsi kebijakan.
Wakil Menteri Perekonomian Bappenas, Amalia Adininggar Widyasanti membuka webinar yang diikuti lebih dari 700 peserta dari kementerian, antara lain Bappenas, instansi utama, pemerintah daerah, asosiasi UKM, universitas, dan lembaga penelitian.
“Sangat penting untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk mencapai tingkat pra-pandemi COVID-19,” kata Ibu Adininggar dalam sambutan pembukaannya.
COVID-19 telah berdampak besar pada ekonomi global dan tidak terkecuali Indonesia. Selama triwulan II 2021, BPS mencatat ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 7,07%, namun pencapaian tersebut masih moderat dibandingkan negara lain. Indonesia harus mengubah rencana makroekonominya untuk mendapatkan kembali arah pertumbuhan ekonominya ke tingkat sebelum COVID-19.
“Jika kita tidak bisa melakukannya, saya khawatir Indonesia tidak akan bisa keluar dari jebakan pendapatan menengah sebelum tahun 2045,” kata Ibu Adininggar. Ia berharap hasil webinar ini dapat memperkuat analisis perencanaan makroekonomi untuk perencanaan pembangunan.
Dalam pengantarnya, Direktur Perencanaan Makro dan Analisis Statistik Bappenas, Eka Chandra Buana, mengatakan tidak akan ada pemulihan ekonomi jika COVID-19 tidak dapat dibendung. Bappenas memperkirakan ekonomi Indonesia hanya tumbuh 3,5% - 4,3% pada tahun 2021 karena lonjakan terbaru yang memaksa pembatasan lebih lanjut.
“Jika tumbuh lebih tinggi, berarti kita menang dalam penanganan COVID-19,” kata Buana.
Berbicara di webinar, Tom Rogers dan Sung-Eung Jun, dari Oxford Economics, mempresentasikan prospek ekonomi global dan implikasinya bagi Indonesia dan Asia selama pandemi COVID-19. Webinar juga mengundang Aviliani Malik, Peneliti Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), untuk membahas strategi dan kebijakan untuk mencapai tujuan Indonesia tahun 2021.
Menurut Tom Rogers, meski varian Delta masih terus meningkat, hal itu tidak mempengaruhi pemulihan ekonomi utama, terutama negara-negara dengan peluncuran vaksin yang cepat dan sukses. Beberapa negara membuka kembali ekonomi mereka dan mulai menerima hidup dengan COVID-19 daripada menghilangkannya.
"Dampak dari Delta terhadap pemulihan global masih terlihat sederhana, indikator perdagangan utama terus pulih di tingkat global," kata Rogers. Kepercayaan konsumen terus menguat dan menjadi pendorong pertumbuhan utama, terutama di AS, Inggris, dan zona euro.
Di negara berkembang dengan tingkat vaksinasi yang rendah, termasuk Indonesia, sektor manufaktur telah jatuh ke dalam resesi yang tajam.
Di sektor industri, kendala kapasitas mempengaruhi setiap sektor industri di seluruh dunia. Biaya pemindahan barang di seluruh dunia telah meningkat tajam antara dua hingga tiga kali lipat sejak pandemi dimulai. Bisnis merespon dengan meningkatkan investasi secepat mungkin. Jadi investasi bisnis telah pulih kembali jauh lebih tajam daripada yang terjadi selama krisis keuangan global. Tekanan inflasi akan mulai mereda karena bisnis akan dapat meningkatkan kapasitas dalam satu atau dua tahun ke depan.
Dalam paparannya tentang prospek ekonomi Indonesia, Sung-Eun Jung menggarisbawahi bahwa kinerja ekonomi Indonesia bergantung pada seberapa sukses upaya pemerintah dalam menangani COVID-19.
Konsumsi swasta masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ini menyumbang lebih dari 55% dari PDB. Konsumsi swasta akan mengalami kontraksi pada Q2 dan Q3 tahun 2021 sebelum rebound tahun depan setelah sebagian besar populasi divaksinasi.
Ekspor bersih telah mendukung pertumbuhan sepanjang tahun lalu dan pulih dengan sangat baik, dengan total ekspor 15% di atas tingkat sebelum pandemi.
Indonesia akan mengalami pemulihan tertunda lebih lanjut hingga 2022 - 2023. Tuntutan terpendam dapat dilepaskan pada pertengahan 2022 ketika tingkat vaksinasi yang lebih tinggi memungkinkan pembukaan kembali ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Baik kebijakan fiskal maupun moneter akan tetap diakomodasi dalam waktu dekat. Defisit fiskal Indonesia akan menyempit menjadi 3%.
Menurut Sung, COVID-19 masih menghambat pertumbuhan PDB secara global, terutama ketika vaksin tidak merespon varian baru, memaksa dunia untuk lockdown kembali.
Aviliani, Peneliti Senior dari INDEF, menawarkan strategi untuk memperkuat ekonomi mikro terlebih dahulu dan tidak bergantung pada ekonomi makro.
Pemerintah harus menyiapkan kebijakan adaptif jangka pendek mengingat frekuensi krisis yang semakin meningkat. Sektor bisnis juga harus bersiap untuk menghadapi situasi yang berubah.
Pariwisata merupakan salah satu sektor yang harus diprioritaskan karena memiliki multiplayer effect yang besar. Strategi ini harus dipadukan dengan protokol kesehatan yang ketat.
"Kami memiliki peluang untuk segera memulihkan ekonomi karena persepsi masyarakat sangat mudah diyakinkan," kata Avilia.