Kegiatan

Image
Perekonomian Indonesia mulai pulih, terutama didorong oleh konsumsi swasta, ekspor neto, dan kebangkitan sektor manufaktur. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan mencapai 4,7% pada tahun 2021 dan 6,5% pada tahun 2022, menurut perusahaan prakiraan yang berbasis di Inggris, Oxford Economics.

Sung Eun Jung, ekonom untuk Indonesia di Oxford Economics, mempresentasikan pandangan tersebut dalam pertemuan triwulanan dengan Bappenas (Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional) melalui Zoom yang difasilitasi oleh ARISE+ Indonesia, 21 Mei 2021.

Menurut Sung, konsumsi swasta dan investasi tetap meningkat pada Q1 2021 meskipun pembatasan kembali diperketat pada Januari 2021. Kondisi ini melampaui ekspektasi awal yang memperkirakan penurunan konsumsi swasta.

"Ini pertanda baik dari sisi pemulihan permintaan domestik. Kami menilai permintaan domestik akan menjadi pendorong utama pertumbuhan pada 2021-2022," kata Sung.

Meskipun rebound pertumbuhan lebih kuat dari yang diharapkan, Sung memproyeksikan bahwa pemulihan yang berkelanjutan dapat menjadi tantangan sampai sebagian besar populasi divaksinasi. Tingkat pertumbuhan untuk 2021-2022 tetap di bawah tren historis tetapi diperkirakan akan kembali normal pada tahun 2022.

Risiko defisit kembar tetap ada. Perkiraan defisit fiskal untuk tahun 2022 adalah 4,6% dan 3,6% untuk tahun 2023. Sementara itu, defisit dari transaksi berjalan diperkirakan sebesar 1,7% tahun ini dan melebar menjadi 2,3% pada tahun 2022.

Potensi output Indonesia dan komponennya tetap kuat dalam dekade berikutnya. Namun, investasi adalah kunci untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang. Sung mengatakan, jika investasi tersebut tidak terealisasi, maka akan menurunkan prospek pertumbuhan Indonesia dengan cukup signifikan.

Sung juga menambahkan bahwa kerugian lain yang paling merusak terhadap pertumbuhan PDB adalah efektivitas vaksin, terutama terhadap varian baru virus Covid-19.

Presentasi dilanjutkan dengan diskusi yang dihadiri sekitar 20 ekonom dari Bappenas. Pertemuan serupa dijadwalkan berlangsung setiap triwulan sebagai bagian dari program peningkatan kapasitas Bappenas dalam analisis dan prakiraan ekonomi, melalui Fasilitas Pendukung Perdagangan ARISE+ Indonesia yang didanai oleh Uni Eropa yang dilaksanakan di bawah naungan Bappenas.

Firman Hidayat, Koordinator Perencanaan Makro Ekonomi Bappenas, mengatakan diskusi dengan Oxford Economics memperluas perspektif dan memperkaya wawasan rekan-rekan ekonom untuk menyusun prakiraan dan analisis ekonomi.

“Secara keseluruhan akan meningkatkan kualitas proses dan hasil perencanaan kerangka ekonomi makro kita,” kata Firman.

Subscribe to the ARISE+ Indonesia newsletter