Kegiatan

Bantuan Teknis I

Meski permintaan cabai Indonesia tinggi di pasar global, petani dan produsen lokal masih kesulitan mengirimkan produk cabai ke luar negeri. Cabai Indonesia memang belum terlihat di radar pecinta bumbu pedas dan masih kalah pamor dengan produk asal Thailand, Vietnam, China, dan India.

Peluang dan persyaratan standar dalam ekspor cabai dibahas dalam Webinar Sensitisasi UKM: Apa yang Dibutuhkan untuk Mengekspor Produk Cabe Merah, pada 23 Februari 2022. Webinar tersebut diselenggarakan oleh Kementerian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bekerja sama dengan ARISE+ Indonesia, merupakan bagian dari dukungan terhadap Proyek Utama Pengembangan UMKM Terintegrasi yang dirancang dan dikoordinasikan oleh Bappenas dan dilaksanakan bersama dengan Kementerian Koperasi dan UMKM, serta kementerian terkait lainnya.

Webinar tersebut mempertemukan koperasi produsen cabai dari Kabupaten Batu Bara Sumatera Utara, pemerintah daerah, UKM, pembeli domestik, importir luar negeri, kementerian, akademisi, dan atase perdagangan Indonesia di Eropa untuk membahas persyaratan standar ekspor cabai, khususnya ke Uni Eropa.

Direktur Pembinaan UMKM dan Koperasi Bappenas Ahmad Dading Gunadi mengatakan, pembahasan bertujuan untuk memperkuat rantai pasok cabai khususnya di Kabupaten Batu Bara yang merupakan salah satu penghasil cabai terbesar di Indonesia agar mampu memenuhi permintaan pasar. baik domestik maupun internasional. Menurut Dading, Kementerian UMKM dan Koperasi melalui program Major Project akan mendukung koperasi cabai di Kabupaten Batu Bara dalam membangun unit pengolahan cabai.

“Kami berharap pertemuan ini dapat memfasilitasi business matching antara produsen cabai merah dengan para offtakernya,” kata Dading.

Ketua Tim Technical Assistance I ARISE+ Indonesia, Marc Kwai Pun, menyampaikan harapannya agar dukungan ARISE+ Indonesia kepada Bappenas dalam memperkuat rantai pasok cabai akan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat. Kwai Pun juga mengapresiasi kerja sama dan kontribusi yang sangat baik dari para pemangku kepentingan.

Alicia M Martino, pemilik Sendok Garpu, sebuah restoran dan grosir Indonesia di Brisbane, Australia, mengatakan tidak mungkin menemukan produk cabai dari Indonesia di Australia. “Sedih karena motto kami adalah makanan asli Indonesia,” kata Alicia.

Alicia harus menggunakan produk cabai dari Thailand dan Vietnam yang tersedia di pasar Australia. Dia akan menggunakan banyak cabai merah, terutama untuk memasak rendang daging khasnya, hingga 100 kg per minggu untuk setiap outlet. Dia juga menggunakan cabai untuk menyiapkan segala jenis sambal, salah satu favorit di restorannya. Sambal —kata bahasa Indonesia untuk saus pedas— merupakan bagian tak terpisahkan dari masakan di nusantara. Ke mana pun Anda bepergian di Nusantara, setiap kota memiliki sambal khasnya masing-masing. Wajar jika para diaspora Indonesia mengobati kerinduannya dengan menyantap sambal dari bahan makanan Asia, seperti yang dioperasikan oleh Alicia.

Selain diaspora Indonesia, cabai juga sangat diminati oleh pasar yang lebih luas dan beragam. Gareth Logsdon, manajer pembelian The Chilli Doctor di Inggris, mengatakan bahwa cabai merah dan produk gourmetnya memiliki penggemar tersendiri di Eropa, menjadikannya bisnis yang menggiurkan. Namun, perusahaannya belum mengimpor cabai dari Indonesia karena hanya sedikit produsen Indonesia yang mendapatkan sertifikasi Global Food Safety Initiative.

"Tantangan terbesar untuk mengekspor ke Eropa adalah peraturan untuk pestisida, logam berat, mikotoksin, dan lain-lain. Sementara Inggris meninggalkan UE, kami masih mengikuti peraturan yang sama untuk keamanan pangan," kata Logsdon.

Sabbat Jannes, Atase Perdagangan KBRI Belanda, mengatakan pihaknya tak henti-hentinya berupaya memenuhi persyaratan UE untuk membantu produsen Indonesia mengirimkan cabai mereka ke Eropa. Poin kunci, katanya, adalah keamanan pangan, sertifikasi, dan kontinuitas.

“Banyak importir yang mengeluhkan produk Indonesia hanya memiliki umur simpan yang singkat, selain pengiriman yang lama dan biaya logistik yang mahal,” kata Sabbat.

Menurut pendiri Koperasi Berkah Abadi Jaya, Ahmad Fauzi, Kabupaten Batu Bara memproduksi cabai merah hingga 16.000 ton per tahun, sehingga sangat potensial untuk memasok pasar internasional, apalagi hanya berjarak 30 menit dari Pelabuhan Kuala Tanjung yang terletak di seberang Port Klang di Malaysia.

Sayangnya, saat musim panen, banyak cabai yang terbuang sia-sia akibat kelebihan pasokan yang berujung pada penurunan harga. Koperasi telah bekerja sama dengan beberapa universitas untuk meningkatkan manajemen rantai pasokan dengan mengolah cabai menggunakan teknologi ozon, yang memperpanjang umur produk segar hingga dua bulan, dan mengolah cabai menjadi bentuk pasta, bubuk, atau kering.

“Terima kasih atas wawasan berharga yang dibagikan di webinar ini. Diskusi ini sangat penting dalam membantu kami memahami peluang pasar dan persyaratan kualitas standar untuk mengekspor cabai ke Eropa dan negara lain. Kami akan menggunakan informasi ini untuk meningkatkan produk kami. Kami menantikannya untuk lebih mendukung dan melanjutkan kerjasama terutama dalam pemenuhan standar dan sertifikasi,” kata Fauzi.

 

 

Jasa SEO Jakarta

Jasa Pembuatan Website Jakarta

Subscribe to the ARISE+ Indonesia newsletter