Kegiatan

Sektor kelapa di Sulawesi Utara memiliki lebih dari satu juta ton potensi ekspor hasil samping kelapa yang belum tergarap senilai Rp 1 triliun. Dengan India dan Sri Lanka yang telah mencapai puncak produksinya di sektor kelapa, terbuka peluang bagi Indonesia untuk berkontribusi pada rantai pasokan. Tetapi masalah logistik harus dipertimbangkan.

Inilah poin utama yang dikumpulkan dari Webinar Sensitisasi UKM tentang komoditas kelapa dan produk turunannya yang diselenggarakan oleh Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan), dengan dukungan dari ARISE+ Indonesia, pada Jumat (12/11). Acara ini merupakan rangkaian webinar ketiga yang bertujuan untuk memfasilitasi diskusi antara UKM dan pembeli asing tentang peluang dan tantangan ekspor di sektor-sektor terpilih yang akan menginformasikan pembuatan kebijakan dalam merampingkan dukungan kepada UKM di Indonesia.

Direktur Pembinaan UKM dan Koperasi Bappenas, Dr Ahmad Dading Gunadi dalam sambutan pembukaannya mengatakan bahwa Pemerintah sedang mempersiapkan program dukungan terpadu untuk memperkuat UKM di sektor-sektor terpilih, bertajuk Proyek Besar. Proyek ini diharapkan dapat meningkatkan rantai nilai hulu dan hilir serta memberikan nilai tambah yang lebih baik bagi UMKM.

Dia mencatat bahwa dukungan dan kontribusi pemerintah daerah juga penting untuk mencapai hasil yang efektif dan efisien dalam memperkuat UKM.

“Kami akan meluncurkan proyek percontohan untuk sektor kelapa tahun depan di Sulawesi Utara sebagai sentra produksi kelapa terbesar kedua di Indonesia,” kata Dading.

Berbicara di webinar, Jelte Veenstra, Direktur Van der Knaap BV, importir kelapa dari Belanda, menyatakan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu eksportir terkemuka di cocopeat. Namun, sertifikasi, keberlanjutan produksi, dan logistik merupakan isu-isu yang harus ditangani oleh Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan daya saing ekspornya.

Pembeli kelapa lain dari Belanda, Sinar Sitepu, pendiri Global Spices BV, menunjukkan bahwa kelapa memberikan ekonomi sirkular karena setiap bagian dari kelapa - inti, air, sekam, tempurung - dapat dimanfaatkan. Dia mencontohkan meningkatnya permintaan kelapa separuh untuk pengolahan pakan burung. Dia juga sependapat dengan Jelte dan menggarisbawahi pentingnya sertifikasi, kualitas, kontinuitas, ramah lingkungan dan produksi organik pada kelapa untuk menjawab permintaan global, terutama pasar Eropa.

Atase Perdagangan Indonesia di Belanda, Sabbat Christian Jannes Sirait, membenarkan adanya peluang kelapa di pasar Eropa. Ia juga mengingatkan UKM Indonesia akan pentingnya peningkatan kapasitas dan daya saing, terutama dari segi standarisasi kualitas dan kontinuitas produksi yang masih menjadi tantangan yang dihadapi UKM Indonesia.

Menemukan pembeli internasional dan akses ke informasi tetap menjadi hambatan utama bagi ekspor UKM. Tidak hanya produsen tetapi pembeli terkadang menghadapi tantangan yang sama. Ketua Jurusan Teknologi Pertanian Universitas Sam Ratulangi Sumatera Utara Dedie Tooy saat memaparkan peluang sektor kelapa di Sulut merekomendasikan agar dibangun platform digital untuk memfasilitasi market linkage antara UKM kelapa dengan pembeli asing.

Rajendra Singh, Wakil Direktur Pusat Promosi Perdagangan dan Ekspor Nepal menambahkan bahwa promosi online harus memvisualisasikan produk dengan jelas dan menggambarkan produk sejelas mungkin.

Perwakilan dari Bappenas, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Koperasi dan UKM, Delegasi Uni Eropa (EUD), pemerintah provinsi, asosiasi bisnis, pengusaha, dan pembeli asing berpartisipasi melalui saluran Youtube Zoom atau ARISE+ Indonesia. Atase Perdagangan Indonesia di Belanda, Sabbat Christian Jannes Sirait; Atase Perdagangan di Jerman, Nurlisa Arfani; dan Atase Perdagangan di Prancis, Ruth Joanna Samaria, bergabung dalam pertemuan tersebut.

Subscribe to the ARISE+ Indonesia newsletter