
Peluang ekspor dipresentasikan dalam Sensitisasi UKM ke-2 yang diselenggarakan oleh Bappenas dengan dukungan dari ARISE+ Indonesia yang didanai Uni Eropa pada 30 September 2021. Seri webinar edisi ke-2 ini berfokus pada minyak nilam.
Lebih dari 100 perwakilan dari Bappenas, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Koperasi dan UKM, Delegasi Uni Eropa (EUD), pemerintah provinsi, asosiasi bisnis, pengusaha, dan pembeli asing berpartisipasi melalui Zoom atau Youtube. Ruth Joanna Samaria, Atase Perdagangan di Paris, juga menghadiri webinar tersebut.
Webinar ini bertujuan untuk memfasilitasi diskusi antara Usaha Kecil Menengah (UKM) Indonesia dan pembeli internasional tentang peluang dan tantangan ekspor nilam, khususnya pasar Eropa. Diskusi juga akan dimasukkan ke dalam Proyek Besar yang dirancang oleh Bappenas. Proyek ini bertujuan untuk merampingkan dukungan kepada usaha kecil di Indonesia. Proyek tersebut saat ini sedang diujicobakan untuk 5 sektor termasuk minyak nilam. Kementerian Koperasi dan UKM akan memimpin pelaksanaan Proyek Besar yang dimulai pada 2022.
Direktur Pengembangan Ekspor Nasional, Miftah Farid, mengapresiasi inisiatif dialog tersebut dan menekankan pentingnya hal itu, karena Indonesia merupakan produsen minyak atsiri terbesar ke-4 di dunia.
"Nilam memiliki potensi besar dalam aplikasi dan komersial. Ini banyak digunakan dalam industri kecantikan, seperti kosmetik, parfum, perawatan pribadi dan minyak esensial," kata Miftah.
Ia juga menegaskan kembali komitmen Pemerintah untuk memberikan dukungan penuh kepada UKM untuk meningkatkan daya saing di pasar global.
Menyampaikan sambutan pembukaan atas nama Kepala Kerjasama Uni Eropa, Martin Mitov, mengatakan bahwa permintaan minyak atsiri tumbuh di Eropa dan mengalami pertumbuhan yang stabil.
Dia menambahkan bahwa CEPA Indonesia-UE yang sedang dinegosiasikan akan membuka lebih banyak peluang dan menjadi dorongan besar bagi eksportir Indonesia yang akan mendapat manfaat dari penurunan tarif yang signifikan.
Salah satu panelis diskusi, Mostapha Bessalah, Manajer Natgreen, sebuah perusahaan minyak atsiri yang berbasis di Prancis, mengangkat masalah sulitnya mendapatkan sertifikasi di Indonesia yang membuat produsen kecil tidak dapat memenuhi permintaan minyak nilam bersertifikat.
Keberlanjutan juga menjadi salah satu isu yang diangkat oleh panelis, Ard Verloop, Chief Executive Officer PT Natura Aromatik Nusantara, dan Floris Graziosi, Manager PT Florindo Selaras Karya.
Menyikapi isu keberlanjutan pasokan, Syaifullah Muhammad, Kepala Pusat Penelitian Atsiri Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, yakin dengan penanaman kembali nilam (Pogostemon cablin) di seluruh kabupaten Aceh, pasokan akan lebih berkelanjutan.
“Selama konflik Aceh berkepanjangan, perkebunan nilam terbengkalai dan hanya bertahan di empat kabupaten. Saat ini, 16 kabupaten di Aceh menanam nilam,” kata Syaifullah.
Kepala Bidang Perencanaan dan Pengendalian Badan Perencanaan Kabupaten (Bappeda) Aceh Tamiang Muhammad Yani membenarkan adanya penanaman kembali nilam di Aceh Tamiang.
“Kami memanfaatkan lahan terlantar untuk menanam nilam secara lestari, tanpa merambah hutan,” kata Yani.
Mengomentari masalah sertifikasi, Syaifullah mengusulkan pengembangan dan penguatan ekosistem ekspor nilam dengan memanfaatkan kolaborasi dan kerjasama para pemangku kepentingan Penta Helix, yaitu Pemerintah, Swasta, Masyarakat, Universitas, dan Media.
Atase Perdagangan Indonesia di Paris, Ruth Joanna Samaria, sependapat dengan Syaifullah, mengatakan bahwa masalah tersebut akan dapat diselesaikan dengan bekerja sama. Dia juga mengkonfirmasi meningkatnya permintaan minyak nilam bersertifikat di Eropa. Ia meyakinkan para eksportir Indonesia bahwa kantor perwakilan perdagangan Indonesia di Paris akan selalu mendukung promosi produk Indonesia di Prancis.