Potensi e-dagang dinilai masih besar. Namun, pengembangannya butuh dukungan dari pilar lain, seperti infrastruktur, sistem logistik dan pembayaran, serta industri manufaktur. Pertumbuhan belanja daring rata-rata 21 persen per tahun dengan perkiraan 119 juta pembeli pada tahun 2025. Perkembangan e-dagang juga ditandai dengan muncul dan berkembangnya laman-laman pemasaran.
Pelaksana Tugas Direktur Ekonomi Digital Kementrian Komunikasi dan Informatika I Nyoman Adhiarna, pada pembukaan pameran dan konferensi "e23Commerce Indonesia 2019" di Jakarta, Rabu (25/9/2019), mengatakan, perkembangan teknologi komunikasi dan informasi telah mengubah banyak hal. Tak hanya cara berkomunikasi, kehadirannya juga membentuk ekonomi digital, termasuk e-dagang yang berkembang pesat di Indonesia.
Akan tetapi, perkembangannya memunculkan hal lain yang perlu diatur, antara lain terkait dengan pembayaran, logistik, perpajakan, dan perlindungan konsumen. Oleh karena itu, pemerintah menerbitkan peta jalan e-dagang yang kini tengah disempurnakan lagi.
Di sisi infrastruktur, pemerintah menyelesaikan proyek Palapa Ring dan membangun jaringan pita lebar berbasis satelit untuk menjangkau pulau-pulau terpencil melalui skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha. Pada akhir 2019, sebanyak 412 wilayah administrasi diharapkan terhubung jaringan 4G.
CEO the Power Group-Powercommerce Hadi Kuncoro dalam sesi diskusi menyatakan, secara historis, ekonomi digital memiliki empat pilar, yakni platform, pembayaran dan teknologi finansial, logistik, dan produk. Soal platform, Indonesia memiliki laman-laman pemasaran yang menyandang predikat unicorn, usaha rintisan dengan valuasi lebih dari 1 miliar dollar AS.
Perkembangan itu diikuti dengan munculnya pemain teknologi finansial. Namun, perkembangan itu belum diikuti perkembangan pilar ketiga, yaitu logistik. Sementara untuk pilar terakhir, oleh karena produk dalam negeri terbatas, kebanyakan produk yang dipasarkan adalah produk impor.
"Pilar logistik masih diperjuangkan karena secara spesifik Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau. Hal ini tidak mudah," kata Hadi.
Dengan pusat logistik yang masih terpusat di Pulau Jawa, biaya pengiriman jadi mahal dan memakan waktu. Hal itu mesti diatasi, salah satunya dengan mengintegrasikan antara daring dan luring, yakni menghubungkan pembeli dengan distributor terdekat. Dengan demikian, barang tidak dikirim dari Jakarta, tetapi dari lokasi distributor terdekat..
Masalah lainnya adalah terbatasnya sumber daya manusia di bidang digital, terutama di daerah terpencil. Tantangan lainnya adalah mendorong transformasi bisnis dari konvensional ke digital.
Penggerak ekonomi
Pemerintah menargetkan sektor manufaktur dan pangan jadi penghela pertumbuhan ekonomi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Produk pangan bernilai tambah akan ditingkatkan, terutama subsektor perikanan.
Deputi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bidang Ekonomi Bambang Prijambodo, pada peresmian program ASEAN Regional Integration Support Indonesia Trade Support Facility (Arise Plus) Indonesia di Jakarta, Rabu (25/9/2019), menyatakan, perekonomian Indonesia diharapkan tumbuh 5,4-6,0 persen per tahun. "Perdagangan dan investasi merupakan faktor kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," ujarnya.
Arise Plus Indonesia merupakan program bantuan Uni Eropa di bidang perdagangan, mencakup peningkatan daya saing ekspor Indonesia dalam rantai global. Tahun 2019-2023, Arise Plus menyalurkan 15 juta euro atau sekitar Rp 232 miliar.
Pemerintah menargetkan sektor pertanian tumbuh 3,8-3,9 persen per tahun dalam RPJMN 2020-2024. Subsektor perikanan akan jadi andalan dalam menggerakkan sektor primer dan pangan bernilai tambah. Arise Plus dinilai jadi salah satu cara meningkatkan kualitas perdagangan Indonesia dengan Uni Eropa sekaligus mengurangi defisit perdagangan.
Program itu juga diharapkan menguatkan kapasitas Indonesia dalam perundingan perjanjian perdagangan bebas serta peningkatan infrastruktur mutu guna mendorong ekspor unggulan. (NAD/LKT)
Source : Kompas Newspaper