News Coverage

Perwakilan Uni Eropa melalui ARISE Plus Indonesia, Martin Mitov, mengatakan permintaan bahan baku indrustri atsiri Indonesia mengalami peningkatan di Eropa. Untuk itu, sangat dibutuhkan dukungan dan peningkatan kolaborasi antara Indonesia dengan negara-negara Eropa.

Perwakilan Uni Eropa melalui ARISE Plus Indonesia, Martin Mitov, mengatakan permintaan bahan baku indrustri atsiri Indonesia mengalami peningkatan di Eropa. Untuk itu, sangat dibutuhkan dukungan dan peningkatan kolaborasi antara Indonesia dengan negara-negara Eropa.

“Setiap tahun rata-rata ada peningkatan 10-20 persen permintaan bahan baku atsiri dari industri. Mereka meyakini bahwa produk-produk berbahan baku alami akan meningkatkan kualitas kesehatan pagi penggunanya” ujar Marin, dalam acara webinar tentang “Nilam Aceh” digagas oleh Uni Eropa melalui ARISE Plus Indonesia dan Bappenas, kemarin.

Direktur Pengembangan Produk Ekspor Kementrian Perdagangan Republik Indonesia, Miftah Farid, mengatakan Indonesia merupakan negara produsen atsiri terbesar keempat di dunia. Nilam, kata dia, salah satu produk ekspor atsiri terbesar dari Indonesia.

“Nilam banyak digunakan untuk berbagai bahan baku industri di berbagai negara. Khususnya industri parfum, kosmetika, toiletries dan aroma terapi,” kata Miftah.

Secara umum, kata Miftah, neraca perdagangan Indonesia surplus 2,59 miliar USD pada Juli 2021. Oleh karena itu, kata dia, perlu kekompakan antara petani, peyuling, dan pembeli dari manca negara. “Sehingga volume ekspor kita bisa meningkat lagi,” kata Miftah.

Kepala ARC-PUIPT Nilam Aceh Universitas Syiah Kuala (USK), Syaifullah Muhammad, menjelaskan  Nilam Aceh memiliki sejarah yang Panjang. Hingga saat ini, tetap menjadi salah satu komoditi unggulan dari Aceh yang telah mendapatkan Sertifikat Indikasi Geografis dari Depkumham Republik Indonesia.

Syaifullah menyebutkan selama bertahun-tahun produksi nilam Aceh semakin menurun. Hal itu dikarenakan konflik berkepanjangan dan tata niaga yang tidak terjaga dengan baik.

“Saat ARC Universitas Syiah Kuala bersama Bappeda Aceh melakukan kajian 5-6 tahun lalu, wilayah produksi nilam di Aceh hanya tinggal 4-5 kabupaten lagi. Namun Saat ini setelah berbagai program yang dilaksanakan melalui kerjasama penta helix antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, masyarakat dan media, sudah ada 16 kabupaten yang kembali menanam nilam,” kata Syaifullah.

ARC Universitas Syiah Kuala, kata Syaifullah, telah melakukan berbagai inovasi teknologi. Sehingga memungkinkan pemurnian minyak nilam hingga kandungan Patchouli Alkohol (PA)-nya mencapai 85 persen. Bahkan, kata dia, dapat diproses menjadi kristal patchouli dengan konsentrasi PA 98-99 persen.

Syaifullah menjelaskan produk intermediate tersebut dapat dimanfaatkan oleh UMKM untuk memproduksi berbagai produk turunan. Seperti, parfum dengan kualitas tinggi. Sehingga memberi nilai tambah, membuka lapangan kerja dan peningkatan ekonomi local.

Harapannya, kata Syaifullah, 10-20 persen minyak nilam Aceh dapat diproses lebih lanjut menjadi hi-grade patchouli. Kemudian dikembangkan menjadi berbagai produk inovasi.

Direktur Pengembangan UKM dan Koperasi Bappenas, Ahmad Dading Gunadi, mengatakan pemerintah harus terus berkomitmen agar terus terlibat dalam pengembangan nilam dan industri atsiri.

“Saya semakin yakin untuk mewujudkan Major Project Nilam Aceh di 2022. Kita akan libatkan multi pihak, termasuk perguruan tinggi dan lembaga riset agar program yang dijalankan sesuai dengan dukungan data, informasi dan inovasi yang telah lama dikembangkan,” kata Dading.

Dading menyebutkan Bappenas merencanakan Major Project untuk lima provinsi di Indonesia pada 2022. Aceh untuk komoditas nilam, Jawa Tengah untuk rotan, Kalimantan Timur untuk Biofarmaka, Nusa Tenggara Timur untuk pengembangan sapi dan Sulawesi Utara untuk komoditas kelapa.

Source : rmolaceh.id

Subscribe to the ARISE+ Indonesia newsletter