Pemerintah menargetkan, laju pertumbuhan ekonomi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan rata-rata sebesar 3,8-3,9% pada periode tahun 2020-2024. Deputi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/ Bappenas) bidang Ekonomi Bambang Prijambodo mengatakan, target itu membaik dibandingkan laju pertumbuhan sepanjang tahun 2014-2019.
BPS mencatat, laju pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tahun 2015 sebesar 4,02%, tahun 2016 sebesar 3,25%, tahun 2017 sebesar 3,81%, dan tahun 2018 sebesar 3,91%.
"Untuk sektor pertanian, periode tahun 2020-2024 kita upayakan tumbuh 3,8-3,9% per tahun. Itu pertanian dalam arti luas, termasuk di dalamnya perikanan dan kehutanan. Target itu average lebih baik dibandingkan periode 5 tahun sebelumnya. Sektor perikanan menjadi kekuatan penggerak, dalam hal produksi primer. Karena kalau pertumbuhan dari nilai tambahnya masuk ke sektor manufaktur. Tentu, kita tetap akan mempertahankan sustainability," kata Bambang kepada wartawan usai pembukaan ARISE+ Indonesia National Dissemination Seminar di Jakarta, Rabu (25/9).
Untuk mendukung program tersebut, kata dia, upaya-upaya peningkatan kapasitas akan terus digenjot. Apalagi, ujar dia, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan tumbuh 5,4-6% per tahun pada 2020-2024. Dengan skenario moderat 5,7%.
"Manufaktur ditargetkan kembali menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Dimana, saat ini, pertumbuhan sektor manufaktur kita memang ada di bawah pertumbuhan PDB nasional. Kita akan memacu sektor manufaktur. Khusus di sektor perikanan, ke depan, kita akan memacu peningkatan nilai tambah. Dimana, peran teknologi menjadi penting untuk menambah nilai tambah di sektor primer, khususnya pertanian dan perikanan," kata Bambang.
Peningkatan nilai tambah sektor primer dan penciptaan lapangan kerja baru, kata dia, menjadi fokus dalam menambah daya saing dan keunggulan produk Indonesia. Dengan demikian, kata dia, perdagangan Indonesia tidak lagi hanya didominasi oleh bahan mentah. Tapi, juga diisi barang-barang olahan bernilai tambah.
Karena itu, lanjut Bambang, program ARISE+ Indonesia diarahkan untuk menopang kegiatan-kegiatan peningkatan kapasitas, berdasarkan kepentingan nasional. ARISE+ Indonesia, Asean Regional Integration Support-Indonesia Trade Support Facility (ARISE+ Indonesia) adalah program hibah untuk 4 tahun bernilai 15 juta Euro atau sekitar Rp 232 miliar. Yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing ekspor serta integrasi Indonesia dalam rantai nilai global. ARISE+ Indonesia telah dilaksanakan sejak Februari 2019 dan akan berlangsunh sampai Januari 2023.
Program tersebut difokuskan pada penguatan kapasitas terkait perundingan perjanjian perdagangan bebas, peningkatan infrastruktur mutu guna mendorong ekspor unggulan seperti produk pertanian pangan dan perikanan, serta mempromosioan Indikasi Geografis (IG) unggulan Indonesia, dalam hal ini kopi.
"Dengan upaya-upaya ini, kita harapkan kapasitas ekspor kita meningkat. Dengan begitu, defisit perdagangan yang tahun lalu mencapai US$ 8,57 miliar bisa ditekan. Bahkan, diharapkan bisa menghasilkan surplus perdagangan sebesar US$ 15 miliar per 2024. Produk bernilai tambah, hasil manufaktur akan menjadi penopang," kata Bambang.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Delegasi Uni Eropa Vincent Piket mengatakan, ARISE+ Indonesia merupakan program untuk meningkatkan daya saing Indonesia dan mengembangkan peningkatan nilai tambah. Untuk memacu penambahan daya saing dan mempromosikan ekonomi berkelanjutan.
"Kerja sama ekonomi yang berlamgsung lama dengan Indonesia berfokus pada peningkatan iklim usaha, pembangunan ekonomi yang inklusif serta investasi berkelanjutan. ARISE+ Indonesia akan mendukung integrasi perdagangan dan investasi Indonesia di Asean, dengan Uni Eropa dan di dalam WTO," kata Vincet Piket.
Source : investor.id