News Coverage

Uni Eropa memberikan dukungan strategis agar makin banyak produk Indonesia yang daftar untuk mendapatkan logo Indikasi Geografis (Geographical Indications atau GI). Hal itu berguna untuk menjamin asal-usul produk dari Indonesia, sehingga warga Eropa semakin tertarik membelinya. Indikasi Geografis adalah perlindungan yang memberikan indikasi asal sebuah produk. Ini bisa diterapkan ke banyak jenis produk, mulai dari produk kopi hingga tempe mendoan.

Dalam upaya untuk terus meningkatkan kinerja ekspor nasional, Kementerian Perdagangan bersama Arise+ Indonesia kembali menyelenggarakan lokakarya secara hibrida yang kali ini mengangkat tema ‘Workshop on B2B Ecommerce Opportunities for Indonesian Export Oriented Companies’ di Cibitung, Cikarang Barat, Rabu (22/9). Kegiatan ini merupakan seri kedua dari rangkaian lokakarya niaga elektronik (niaga-el/e-commerce) B2B yang sebelumnya diselenggarakan pada 20 September 2021 di Tangerang, Banten.

Keamanan pangan terus menjadi perhatian penting dunia. World Health Organization (WHO) dan Food Agriculture Organization (FAO) menyatakan tantangan kemanan pangan kian kompleks dengan meningkatnya kasus keamanan pangan. Untuk itu, pihaknya merekomendasikan urgensi penerapan sistem keamanan pangan berbasis risiko.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) berharap  perundingan Perjanjian Kerjasama Ekonomi Komprehensif Indonesia dan Uni Eropa (IEU-CEPA) bisa rampung sesegera mungkin. Kemendag pun optimistis perjanjian ini bisa rampung di 2021.

CSIS menganggap ratifikasi perjanjian dagang Indonesia-Europe Union CEPA potensial mendukung pemulihan perekonomian nasional pasca covid-19. Setidaknya, finalisasi perjanjian tersebut mampu menambah sekitar 0,19% atau setara US$2,8 miliar kepada PDB nasional setiap tahunnya.

Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi menjadi pembicara pada webinar yang diselenggarakan oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS) terkait Perundingan Perjanjian Kerja Sama Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA) di Kantor Kementerian, Jakarta, Kamis (6 Mei).

Jakarta – Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengembangkan strategi untuk mempromosikan Kopi Gayo berbasis Indikasi Geografis (IG) yang dinilai dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap kinerja ekspor nasional.

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menegaskan bahwa promosi produk IG akan terus digencarkan sebagai langkah persiapan menghadapi panen raya Oktober mendatang. “Produk IG dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap kinerja ekspor nasional, khususnya di masa pandemi Covid-19 saat ini,” tegas Agus.

Pemerintah menyiapkan strategi promosi kopi Gayo berbasis indikasi geografis. Hal tersebut dilakukan menjelang persiapan panen kopi Gayo Oktober mendatang, guna mendorong proses ekspor kopi tersebut di pasar global. Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan, produk dengan indikasi geografis atau IG bisa berkontribusi besar terhadap kinerja eskpor nasional. Khususnya, ekspor di masa pandemi covid-19.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan,  Kasan mengatakan, kopi Gayo merupakan salah satu contoh produk Indikasi Geografis (IG) yang pertama diakui pasar global, khususnya pasar Eropa. Kata “Gayo” merupakan identitas kelompok/etnik yang merepresentasikan daerah asal. Selain itu juga menggambarkan pribadi yang melekat yang tidak dimiliki oleh IG dari negara lain.

Page 9 of 14

Subscribe to the ARISE+ Indonesia newsletter