ARISE+ Indonesia baru saja memasuki tahun ketiga sejak diluncurkan pada tahun 2019. Sementara program ini telah beroperasi di bawah keadaan luar biasa yang disebabkan oleh COVID-19 selama sebagian besar keberadaannya, analisis data proyek terbaru menunjukkan langkah implementasi yang cukup baik.
Badan Standardisasi Nasional (BSN) menyelenggarakan dua lokakarya tentang Good Standardization Practice dan Good Regulatory Practice, dengan bantuan dari ARISE+ Indonesia. Sebagai badan standardisasi nasional, BSN memainkan peran sentral dalam membuat standar tersedia bagi dunia usaha dan memastikan bahwa semua standar nasional up-to-date dan diselaraskan dengan standar internasional.
Pemerintah sedang mempersiapkan rancangan perubahan Peraturan Republik Indonesia (PP) Nomor 34 Tahun 2011 tentang Tindakan Anti Dumping, Tindakan Imbalan (Countervailing), dan pengamanan Perdagangan (Safeguard) untuk memperkuat perlindungan industri dalam negeri dari praktik perdagangan tidak sehat oleh negara mitra. Untuk menginformasikan proses penyusunan, ARISE+ Indonesia, di bawah naungan Direktorat Pertahanan Perdagangan, Kementerian Perdagangan meninjau undang-undang Trade Remedy.
Dalam upaya meningkatkan kapasitas perencanaan kebijakan perdagangan dan investasi, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyelenggarakan kursus pelatihan tentang analisis Rantai Nilai Global (Global Value Chains/GVCs) dengan dukungan ARISE+ Indonesia. Para analis dan perencana ekonomi Bappenas mengikuti pelatihan modul pertama pada 17-20 Januari 2021.
Mendekati Kepemimpinan Indonesia di ASEAN pada 2023 mendatang, Direktorat Perundingan ASEAN, Ditjen Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, dengan dukungan ARISE+ Indonesia, menginisiasi kajian Penguatan Kontribusi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Menuju Pertumbuhan Ekonomi ASEAN melalui Transformasi Digital. Kick-off meeting berlangsung pada Senin (17/01) melalui platform virtual meeting.
Siapa yang belum pernah mendengar tentang Teh Darjeeling, Kopi Kolombia, Minyak Argan, Sampanye, Wiski Scotch, Balsamico de Modena (Cuka Balsamik), Feta (keju Yunani), Gouda Holland (keju), atau Parmigiano Reggiano (keju Parmesan)? Sebagian besar dari kita mungkin pernah. Kita mengenali produk tersebut karena popularitas dan reputasinya di seluruh dunia. Kualitas terkenal mereka, karakteristik unik, dan keaslian sangat terkait dengan asal geografis mereka, yang didefinisikan sebagai Indikasi Geografis (GI).
Memperkuat RVC (Regional Value Chain) dan meningkatkan partisipasi dalam Global Value Chain (GVC) merupakan pilihan strategis yang penting bagi Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dalam upaya mencapai Cetak Biru Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2025. Tujuan MEA mencapai pasar tunggal yang terintegrasi melalui integrasi ekonomi regional untuk mendukung pertumbuhan ekonomi tinggi yang lebih merata, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan, bahkan di tengah guncangan dan volatilitas ekonomi global.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menjadi tuan rumah pertemuan ARISE+ Indonesia Project Steering Committee (PSC) keempat, yang diselenggarakan secara virtual pada 17 Desember 2021. Wakil Menteri Perekonomian, Amalia Adininggar Widyasanti dan Kepala Delegasi Kerjasama Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Mr Thibaut Portevin memimpin pertemuan tersebut.
Bentuk-bentuk perdagangan internasional yang tidak adil datang dalam berbagai cara, termasuk dumping, subsidi, perjanjian kartel, penetapan harga, penyalahgunaan posisi dominan di pasar, dan banyak lagi. Ini dapat mengakibatkan banyak tantangan ekonomi tetapi juga meningkatkan tantangan penting, termasuk ketenagakerjaan, kemiskinan, dan masalah lingkungan.
Keanekaragaman budaya Indonesia telah melahirkan banyak pilihan produk pertanian yang dapat melambung jauh ke pelosok bumi jika dipasarkan dengan strategi yang tepat. Konsep Indikasi Geografis adalah sarana yang brilian untuk menghadirkan produk-produk terbaik Indonesia ke tangan pembeli di seluruh dunia, terutama ke pasar Eropa.